Beranda News

Yayasan Said Aqil Siroj Center Desak Investigasi Tragedi Meninggalnya Driver Ojol dalam Aksi Demo di Jakarta

Jakarta, Ketua Yayasan Said Aqil Siroj Center (SASC), KH Arif Fahrudin menyampaikan duka cita mendalam atas meninggalnya Affan Kurniawan, seorang driver ojek online, dalam kerusuhan aksi demonstrasi di Jakarta pada Selasa (27/8/2025). Affan diduga menjadi korban tindakan represif oknum aparat saat pengamanan berlangsung.

Dalam pernyataan sikap resminya, SASC menegaskan bahwa kehilangan nyawa seorang warga sipil adalah tragedi kemanusiaan yang tidak bisa dianggap sepele.

“Nyawa manusia adalah suci. Membunuh satu nyawa tanpa hak sama dengan membunuh seluruh umat manusia,” demikian bunyi pernyataan SASC yang merujuk pada QS. Al-Maidah ayat 32.

SASC menyoroti bahwa aparat keamanan seharusnya mengedepankan prinsip melindungi dan mengayomi masyarakat. Namun, jika tindakan aparat justru menimbulkan korban jiwa, maka hal tersebut dianggap sebagai pelanggaran serius terhadap hak asasi manusia.

Lembaga ini juga mendesak adanya investigasi transparan atas dugaan keterlibatan oknum Brimob dalam insiden tersebut.

“Kami meminta Polri dan Komnas HAM melakukan investigasi independen. Tidak boleh ada impunitas. Penegakan hukum harus ditegakkan tanpa pandang bulu,” tegasnya.

Lebih lanjut, SASC menilai pemerintah perlu mengevaluasi pola pengamanan unjuk rasa agar tidak kembali menimbulkan korban. Demonstrasi, menurut SASC, adalah hak konstitusional setiap warga negara yang harus dijamin dalam negara demokrasi.

“Demonstrasi harus tetap menjaga ketertiban. Kepada aparat keamanan, kami harap agar mengawal demonstrasi dengan kepala dingin, disiplin, dan humanis. Kesatuan dan persatuan NKRI harus diutamakan di atas segalanya,” imbuhnya.

Selain menekankan aspek penegakan hukum, SASC juga menyoroti pentingnya solidaritas sosial bagi keluarga korban serta jutaan driver ojol lainnya yang berada dalam kondisi ekonomi rentan. Pemerintah diminta memberikan perhatian serius terhadap jaminan sosial, perlindungan hukum, dan akses keadilan bagi pekerja sektor informal.

Di akhir pernyataannya, SASC menyerukan agar seluruh pihak meredam emosi, menghindari provokasi, dan membangun dialog yang konstruktif.

“Kekerasan hanya melahirkan kebencian, sementara keadilan dan empati akan memperkuat persatuan. Mari kita jaga martabat kemanusiaan, tegakkan keadilan, dan bangun negeri ini dengan kasih, bukan kekerasan,” tutup pernyataan itu.

SASC menekankan bahwa tragedi ini harus menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak agar penghormatan terhadap hak asasi manusia dan martabat kemanusiaan senantiasa dijunjung tinggi dalam setiap penanganan aksi unjuk rasa di Indonesia.