MANGGARAI NTT, Pelita.co- Dua orang Dosen program studi (prodi) Pendidikan Guru (PG) Paud UNIKA St. Paulus Ruteng menjadi narasumber dalam kegiatan Bimbingan Teknis (BIMTEK) Pembelajaran Mendalam yang digelar Himpunan Pendidik Dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini (HIMPAUDI) kabupaten Manggarai
Kegiatan yang bertema ”Penguatan Kompetensi Pendidik Paud Non Formal Kabupaten Manggarai Melalui Pembelajaran Mendalam Berbasis Kurikulum Merdeka” ini digelar di Aula Dinas PPO kabupaten Manggarai di Ruteng selama dua hari, 8 dan 9 Mei 2026
Keduanya adalah Beata Palmin, M.Pd dan Emilia G. M. Taran, M.Pd. Beata dan Emilia berkolaborasi memaparkan materi deep learning atau pembelajaran mendalam
Ini merupakan sinergitas antara Himpaudi kabupaten Manggarai dengan prodi PG Paud UNIKA St. Paulus Ruteng dalam memajukan dan meningkatkan kompetensi pendidik Paud non formal
Dalam Bimtek ini, peserta yang terdiri dari 24 utusan guru Paud Non Formal dari 12 kecamatan, Alumni PG Paud UNIKA St. Paulus Ruteng dan pengurus cabang Himpaudi 12 kecamatan ini dibekali pola pembelajaran yang lebih relevan
Dalam materi pengantar penyusunan modul pembelajaran mendalam berjudul Menghidupkan Pembelajaran Mendalam di Kelas PAUD dijelaskan bahwa deep learning bukan sekadar metode belajar, melainkan cara memuliakan anak melalui pengalaman belajar yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan
Pembelajaran mendalam di PAUD tidak bertujuan membuat anak cepat membaca atau berhitung, tetapi membantu anak memahami pengalaman belajar secara utuh
“Pembelajaran mendalam di PAUD bukan mengejar anak cepat bisa membaca atau berhitung, tetapi bagaimana anak memahami pengalaman belajarnya melalui olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olah raga secara holistik,” jelas Beata
Modul ajar dalam pendekatan deep learning bukan lagi sekadar dokumen administratif, melainkan panduan sistematis untuk menghadirkan pembelajaran yang hidup dan bermakna di kelas
Modul ajar disusun agar guru mampu membangun kompetensi abad ke-21 sejak usia dini, seperti kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kolaboratif
“Modul ajar harus membantu guru mengenali kebutuhan anak, merancang strategi pembelajaran, menghadirkan pengalaman belajar yang menyenangkan, dan melakukan asesmen tanpa tekanan,” ujarnya
Dalam pemaparannya, Beata menjelaskan empat komponen utama modul ajar deep learning, yakni identifikasi kebutuhan anak, desain pembelajaran, pengalaman belajar, dan asesmen
Pada tahap identifikasi, guru diminta memahami kesiapan dan kebutuhan perkembangan anak melalui asesmen awal. Guru juga diarahkan memilih karakter yang ingin dikuatkan, seperti kreativitas dan penalaran kritis
Sementara pada tahap desain pembelajaran, guru menyusun tujuan pembelajaran dan menentukan praktik pedagogis yang sesuai, seperti bermain peran, pembelajaran kontekstual, dan inkuiri
Guru juga didorong membangun ekosistem belajar melalui kemitraan dengan orang tua, menciptakan lingkungan bermain yang aman dan menantang, serta memanfaatkan media digital sebagai sumber inspirasi belajar
Beata yang juga Koordinator Alumni PG PAUD Unika Santu Paulus Ruteng menegaskan bahwa pembelajaran mendalam merupakan sebuah siklus, bukan proses satu arah
Tahapan pertama adalah memahami, yakni membangun fondasi pengetahuan melalui eksplorasi berbagai sumber belajar seperti buku, video, maupun wawancara sederhana
Tahapan kedua adalah mengaplikasi, di mana anak belajar melalui praktik langsung dan permainan bermakna, misalnya bermain peran menjadi koki atau membuat karya dari bahan bekas
Sedangkan tahap terakhir adalah merefleksi, yakni membantu anak menemukan makna pembelajaran melalui circle time, bercerita tentang hasil karya, hingga mengungkapkan perasaan selama proses belajar
“Anak-anak perlu diberi ruang untuk mencoba, salah, lalu belajar lagi. Dari situlah pembelajaran bermakna terbentuk,” tambah Beata
Ia juga menekankan bahwa asesmen dalam PAUD tidak boleh menekan anak dengan tes tertulis maupun lisan. Guru diminta menggunakan observasi, portofolio hasil karya, dan catatan anekdot untuk melihat perkembangan anak secara alami
Bimtek yang diselenggarakan oleh HIMPAUDI kabupaten Manggarai bekerja sama alumni PG Paud UNIKA St. Paulus Ruteng ini mendapat respon positif peserta
Kegiatan ini dinilai membuka pemahaman baru bagi para pendidik tentang cara menyusun modul ajar yang lebih kontekstual, kreatif, dan sesuai kebutuhan anak usia dini
Salah satu peserta, Paula Samung, mengaku pelatihan tersebut sangat membantu dirinya memahami proses penyusunan modul ajar secara lebih rinci
“Selama ini kami hanya mendownload modul ajar lalu menyesuaikannya dengan kondisi sekolah. Tetapi melalui pelatihan ini kami jadi memahami proses penyusunannya secara detail sehingga lebih percaya diri untuk membuat modul ajar sendiri,” ungkap Paula
Dalam sesi simulasi pembelajaran, pengelola dan pendidik KB Santu Karolus Nggiring Ngong menggunakan tema tanaman buah dengan memanfaatkan pepaya mentah dan matang sebagai media belajar. Melalui media konkret tersebut, anak-anak diajak mengenal konsep warna secara langsung
“Anak tidak hanya menghafal warna, tetapi memahami proses perubahan warna melalui benda nyata yang mereka lihat dan pegang sendiri,” jelasnya
Menurut Paula yang juga menjabat sebagai Ketua Himpaudi Kecamatan Satarmese Barat, pendekatan pembelajaran mendalam membuat anak lebih antusias karena belajar dilakukan melalui pengalaman nyata dan permainan yang bermakna
Namun demikian, ia mengakui masih ada tantangan di lapangan, terutama pandangan sebagian orang tua yang menganggap metode bermain belum cukup mempersiapkan anak masuk sekolah dasar
“Ada orang tua yang masih berpikir anak harus cepat membaca dan menulis. Karena itu guru perlu terus melakukan sosialisasi bahwa proses belajar terbaik di PAUD dilakukan melalui bermain,” ungkap Paula