TANGERANG,Pelita.co – Video pendek di platform YouTube @Waklabu07 yang menampilkan presenter senior sekaligus politisi kawakan, Tantowi Yahya, tengah viral dan menuai perhatian luas dari publik. Dalam tayangan tersebut, pria kelahiran Palembang tahun 1960 itu membeberkan fakta mengejutkan: hampir 80% pasien yang dirawat di rumah sakit di Penang, Malaysia, adalah warga negara Indonesia.
Tantowi Yahya mengungkapkan bahwa fenomena tersebut tidak terjadi tanpa alasan. Banyak masyarakat Indonesia memilih berobat ke luar negeri, khususnya ke Penang, Malaysia, karena sejumlah faktor krusial yang dianggap belum sepenuhnya terpenuhi di dalam negeri.
Menurutnya, daya tarik utama pasien Indonesia berobat ke rumah sakit di Penang antara lain:
– Akurasi diagnosis yang tinggi
– Pelayanan cepat dengan hasil pemeriksaan yang keluar hanya dalam waktu empat jam
– Dokter yang kompeten dan fasilitas alat medis yang modern
– Biaya pengobatan yang justru lebih terjangkau
– Tenaga medis yang mampu berbahasa Indonesia
– Suasana rumah sakit yang membuat pasien merasa betah dan nyaman
“ Saya memilih rumah sakit internasional yang banyak pasien khususnya dari Indonesia, Ketika Saya disana tidak begitu kaget melihat 80% lebih itu adalah pasien dari Indonesia,”
ujar Tantowi dalam video berdurasi kurang dari lima menit itu.
Tak pelak, video tersebut memicu perbincangan luas di kolom komentar. Banyak netizen yang mengaku setuju dan bahkan membagikan pengalaman pribadi mereka berobat ke luar negeri.
Salah satunya akun @J-Indonesia197 yang menuliskan komentar :
“Fenomena RS Penang mengolok-olok dokter di Ind*n*s*4 yang materialistik, tidak akurat dalam diagnosis, dan merasa paling dibutuhkan. Menyebalkan, ekonomi biaya tinggi, bertele-tele dalam tindakan medis, dan rawan malapraktik.”
Sementara akun lain, @elarakecu8318, turut membagikan pengalamannya:
“Kami di Sumatera bagian Utara biasa berobat ke Malaysia. Tidak mahal, diagnosis tidak lama, obat satu dua macam tapi benar-benar menyembuhkan. Sebagian dokter di sana lulusan Indonesia juga. Jadi masalahnya bukan ilmu, tapi integritas pribadi.”
Fenomena ini menjadi catatan penting bagi dunia kesehatan Indonesia. Masyarakat kini semakin selektif dalam memilih layanan kesehatan, dan pengalaman pasien menjadi faktor penentu utama. Sudah saatnya sistem pelayanan kesehatan dalam negeri berbenah, agar kepercayaan publik kembali pulih dan arus “wisata medis” ke luar negeri bisa diminimalkan.