Beranda News

Seorang Ayah Di Manggarai Laporkan Dugaan Kekerasan Yang Menyebabkan Anaknya Patah Kaki Ke Polres Manggarai NTT

Ayah Korban, Yosep Jempaut Usai Melapor Ke SPKT Polres Manggarai

MANGGARAI NTT, Pelita.co–  Tindakan kekerasan terhadap sesama siswa terjadi di SDK Ruteng 4 (empat) kecamatan Langke Rembong kabupaten Manggarai provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 17 Februari 2024

Tindakan tidak terpuji yang diduga dilakukan oleh seorang siswa inisial AKSM ini menimpa teman sekelasnya Vinsensius A. J. Namput atau Jesen hingga mengalami patah pada pergelangan kaki kanan

Akibat patah kaki tersebut sudah dua Minggu Jesen tidak bisa mengikuti KBM di sekolah dan hanya terbaring di tempat tidur di rumahnya di Mbaumuku dengan menahan rasa sakit

Ayah korban Yosep Jempaut, melaporkan tindakan kekerasan yang menimpa anaknya itu ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polres Manggarai dua Minggu setelah peristiwa itu terjadi, tepatnya pada Minggu 02 Maret 2024

Keterlambatan laporan itu karena menunggu itikat baik orang tua terduga pelaku dan upaya penyelesaian dari pihak sekolah

Laporan itu dibuktikan dengan adanya Surat Tanda Penerimaan Laporan (STPL) nomor: STPL/76.b/III/2025/SPKT/RES.MANGGARAI/POLDA NTT dengan laporan dugaan tindakan penganiayaan

Setelah mendapat laporan tersebut, personil SPKT Polres Manggarai bersama pelapor membawa korban ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ben Mboi Ruteng untuk divisum. Hasil visum tersebut akan diterima pada Senin 03 Maret 2025

Kepada media ini, Yosep mengatakan bahwa langkah hukum ini diambil lantaran tidak ada itikat baik dari keluarga anak terduga pelaku dan juga tidak ada upaya penyelesaian yang dilakukan pihak sekolah yang seharusnya menjadi penengah dalam persoalan ini

Yosep menilai pihak keluarga anak terduga pelaku dan pihak sekolah (SDK Ruteng 4) tidak memiliki kepedulian dan tidak ada niat untuk menyelesaikan kasus ini secara baik

Menurutnya pihak sekolah juga seharusnya berperan aktif untuk menengahi kedua belah pihak, baik pihak keluarga atau orang tua terduga pelaku maupun keluarga korban sebab peristiwa tersebut terjadi di sekolah pada jam KBM

Yosep mengaku kesal dengan keluarga terduga pelaku serta menyayangkan sikap pihak sekolah yang tidak memberikan pertolongan pertama kepada anaknya yang saat itu telah mengalami patah kaki usai tindakan teman sekelasnya itu

Lebih mengecewakan kata Yosep di mana seorang pegawai sekolah bernama Rivan yang mengantarkan anaknya pulang hanya sampai di jalan di depan rumah di Mbaumuku tanpa turun membantu korban masuk ke dalam rumah

Parahnya lagi, Rivan tidak memberitahu apapun terkait peristiwa dan kondisi yang dialami anak mereka. Rivan langsung pulang setelah Jesen turun dari sepeda motor yang saat itu langsung dijemput ibunya, Berta Runung

Kaki Kanan Jesen Yang Mengalami Patah Tulang Di Atas Pergelangan Kaki Kanan Yang Dipasangi Gips Dan Dililiti Kain Perekat

Karena tidak sanggup menggendong anaknya itu masuk ke dalam rumah, Berta memanggil suaminya Yosep Jemput sehingga Jesen yang tidak bisa berjalan saat itu digendong Yosep ke dalam rumah

Yosep mengaku kaget melihat anaknya seperti itu. Ia pun menanyakan kedua anak kembarnya itu perihal penyebab kaki Jesen yang tidak bisa berjalan

Baik Jesen sendiri maupun Jery menyembunyikan peristiwa sebenarnya. Mereka hanya memberitahukan kepada orang tua mereka itu bahwa Jesen jatuh di sekolah karena licin

Kedua orang tua mereka pun membawa Jesen ke puskesmas kota di Ruteng untuk mendapat penanganan medis. Dari puskesmas kota diberikan rujukan untuk dirontgen di RSUD Ben Mboi Ruteng

Dari hasil Rontgen itu kata Yosep, Dokter menjelaskan bahwa anaknya mengalami patah di atas pergelangan kaki kanannya dan langsung mendapat penanganan medis dengan dipasangi gips dan dililit kain perekat

Yosep mengaku baru mengetahui penyebab sebenarnya penyebab kaki anaknya itu patah setelah teman dari Jesen datang menjenguknya ke rumah. Mereka mengatakan bahwa Jesen jatuh dan patah kaki bukan karena licin tetapi akibat perlakuan salah satu teman kelas mereka AKSM

Dua Minggu sudah berlalu, Yosep mengaku tidak ada upaya apapun dari pihak orang tua terduga pelaku dan juga dari pihak sekolah, menjenguk anaknya itupun tidak ada

Meski demikian Yosep mengaku pernah dipertemukan oleh pihak sekolah yang difasilitasi wakil kepala sekolah namun tidak ada penyelesaian. Yang cukup memalukan bagi Yosep adalah pertanyaan dari wakil kepala SDK Ruteng 4 dan ibu dari terduga pelaku yang menanyakan berapa biayanya

Pertanyaan itu disanggah Yosep karena menurutnya pertemuan itu tidak seharusnya membicarakan hal tersebut namun lebih pada bagaiman etika yang baik. Pertemuan itu tidak menyelesaikan soal hingga akhirnya dilaporkan ke polres Manggarai sebagai bentuk upaya hukum

Ditanya wartawan di rumahnya pada Minggu siang, Jesen mengisahkan peristiwa itu

Jesen mengatakan bahwa peristiwa itu berawal dari pemukulan yang dilakukan oleh terduga pelaku terhadap saudara kembarnya Rikardus Apriliano Jery Namput atau Jery

Setelah memukul Jery, terduga pelaku kemudian menantang dua saudara kembar itu (Jesen dan Jery) untuk berkelahi

Tidak lama kemudian keduanya terlibat adu fisik sehingga Jesen jatuh ke lantai

Setelah Jesen jatuh ke lantai di dalam ruangan kelas itu, terduga pelaku langsung melompat hingga mendarat tepat di pergelangan kaki Jesen dan kemudian menindiskan tubuhnya di atas tubuh Jesen yang sudah tidak bisa bangun dan merasa sakit

Setelah itu, terduga pelaku bangkit dan kembali memukul Jery saudara kembar Jesen di bagian belakang kepala kemudian menendang bokongnya

Beberapa saat kemudian kata Jesen, seorang guru yang disebutnya bernama Rivan datang dan langsung meraba raba kaki Jesen dan menanyakan apakah Jesen merasa sakit. Rivan kemudian meminta Jesen untuk mencoba berjalan, namun karena kesakitan, Jesen hanya duduk sambil menahan sakit. Rivan pergi meninggalkannya di dalam ruang kelas

Tidak lama kemudian lonceng sekolah tanda pulang berbunyi

Dua guru kemudian datang menghampiri Dirinya. kedua guru itu disebut Jesen pak Edy dan pak Sil (security)

Kemudian mereka memanggil Rivan untuk mengantar Jesen pulang ke rumah yang pada akhirnya hanya diantar dan diturunkan di depan rumah Jesen tanpa memberitahu apapun kepada ibu dari Jesen yang saat itu menjemput Jesen saat turun dari motor

Media ini belum berhasil meminta klarifikasi pihak orang tua terduga pelaku

Sementara kepala SDK Ruteng 4, Fransiska Nurhaina, S.Pd belum memberikan pernyataan apapun terkait hal tersebut meski telah dikonfirmasi media ini melalui pesan WhatsApp nya pada Minggu petang