TANGERANG, Pelita.co –Pekerjaan konstruksi jalan beton di Komplek Griya Lebakwangi 1, RT 003 RW 002, Desa Lebakwangi, Kecamatan Sepatan Timur, Kabupaten Tangerang, menuai sorotan publik. Proyek senilai Rp130 juta yang dikerjakan CV.Daya Multi Kreasi itu dinilai tidak transparan dan berpotensi lemah dalam pengawasan.
Dari data Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Kabupaten Tangerang, proyek betonisasi tersebut diketahui dikerjakan oleh CV Daya Multi Kreasi dengan pagu anggaran Rp130 juta.
Namun di lapangan, pekerjaan jalan (betonisasi) tersebut menuai kritik dari sejumlah pihak. Salah satunya datang dari Cocol, aktivis Pantura yang dikenal aktif dalam pengawasan publik terhadap proyek infrastruktur di wilayah utara Tangerang.
Cocol menilai, tidaknya terpampang papan keterangan informasi proyek (KIP) di lokasi menjadi indikasi lemahnya keterbukaan informasi publik.
“Papan informasi proyek itu bukan sekadar formalitas. Di situ termuat seluruh data penting — mulai dari sumber anggaran, pelaksana, hingga volume pekerjaan. Ketika itu tidak ada, publik wajar curiga ada sesuatu yang disembunyikan,” ujar Cocol kepada wartawan, Sabtu (18/10/2025).
Ia menegaskan, transparansi dan akuntabilitas anggaran adalah hal yang wajib dijalankan dalam setiap proyek yang menggunakan dana publik.
“Ketiadaan papan KIP ini jelas melanggar prinsip keterbukaan. Masyarakat berhak tahu uang pajak mereka digunakan untuk apa, sejauh mana pengawasan dilakukan,” tambahnya dengan nada tajam.
Selain masalah transparansi, Cocol juga menyoroti aspek teknis pekerjaan betonisasi. Ia menduga pengerjaan proyek tersebut minim penggunaan hamparan makadam, sementara beton lama tidak dibongkar terlebih dahulu.
“Kalau beton lama tidak dibongkar, daya lekat dan resapan beton baru akan berkurang. Itu bisa memperpendek umur jalan. Kualitasnya pasti menurun,” kata Cocol.
Temuan lainnya, lanjut Cocol, adanya tunggul batang pohon yang tidak ditebang di sisi jalan. Ia menilai hal itu akan mengganggu estetika dan keselamatan pengguna jalan setelah proyek rampung.
“Kalau tanggul bekas batang pohon saja dibiarkan, itu menunjukkan lemahnya pengawasan teknis. Harusnya instansi terkait turun tangan memastikan pekerjaan sesuai spesifikasi,” ujarnya.
Sementara itu, saat dikonfirmasi, Abuy selaku pelaksana proyek belum memberikan tanggapan atas pertanyaan wartawan terkait ketiadaan papan KIP, serta volume pekerjaan, ketebalan, lebar, dan panjang betonisasi. Hingga berita ini diterbitkan, Abuy belum merespons konfirmasi yang dikirimkan.
Proyek betonisasi di Griya Lebakwangi 1 ini menjadi potret kecil bagaimana transparansi dan pengawasan publik masih kerap diabaikan dalam pelaksanaan kegiatan infrastruktur. Tanpa keterbukaan dan kontrol yang ketat, anggaran besar rawan tak menghasilkan kualitas sepadan.(Ahr)