Beranda News

Orang Tua Kecewa, Anak Gagal Masuk SMAN 25 Tangerang Lewat Jalur Domisili: “Anak Butuh Sekolah, Bukan Ditolak”

Gerbang pintu masuk SMAN 25 Kabupaten Tangerang,(dok ist)

‎TANGERANG,Pelita.co –  ‎Proses Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun ajaran 2025/2026 di SMAN 25 Kabupaten Tangerang menyisakan keluhan dari para orang tua calon siswa. Salah satu keluhan datang dari IR (inisial), seorang wali murid yang anaknya tidak diterima melalui jalur domisili.

‎Dengan nada kecewa, IR yang ditemui langsung di lingkungan sekolah menyampaikan kekecewaannya. “Setiap manusia yang berpikiran waras pasti butuh pendidikan, apalagi anak-anak yang semangat ingin sekolah untuk masa depannya. Masa sih anak-anak yang ingin belajar malah ditolak?” ujarnya dengan ekspresi kesal. Senin 30-06-2025

‎IR juga menyoroti bahwa meskipun beberapa sekolah swasta kini menawarkan pembebasan biaya, namun ia tidak bisa memaksakan kehendak pada sang anak yang ingin melanjutkan pendidikan di sekolah negeri, khususnya SMAN 25. “Kan pemerintah juga selalu bilang bahwa anak-anak harus sekolah tinggi. Tapi nyatanya, kalau daftar ke negeri seperti ini jangan di persulit lah, kenyataannya tidak semudah yang dikatakan,” tambahnya.

‎Ironisnya, saat media mencoba mengonfirmasi persoalan tersebut kepada pihak sekolah, kepala sekolah tidak berada di tempat. Salah seorang pria yang berhasil di temui menyatakan bahwa para guru sedang libur. “Semua guru hari ini libur, Bu/Pak. SPMB semuanya dilakukan secara online,” singkatnya.

‎Pantauan di lokasi, pada pintu gerbang sekolah memang terpampang informasi mengenai proses penerimaan siswa baru secara daring. Namun, tidak terlihat adanya posko layanan aduan atau petugas khusus yang bisa membantu warga yang kesulitan mengakses informasi secara online.

‎Sebagaimana diketahui, hari ini, Senin (30/6/2025), pengumuman hasil seleksi penerimaan siswa baru secara serentak diumumkan di seluruh jenjang SMA dan SMK se-Provinsi Banten. Sayangnya, bagi sebagian warga, sistem online yang diterapkan tanpa pendampingan teknis di lapangan justru menyisakan tanda tanya besar soal transparansi dan keadilan seleksi.

‎Kini publik menunggu tanggapan resmi dari pihak sekolah maupun Dinas Pendidikan Provinsi Banten terkait berbagai keluhan ini. Harapannya, sistem penerimaan siswa baru bisa lebih inklusif, transparan, dan tidak mencederai semangat anak-anak untuk mengenyam pendidikan yang layak.