Beranda News

Dituding Lakukan Provokasi, Pater Marsel Agot Sampaikan Klarifikasi Terbuka Dan Meminta Penuding Meminta Maaf Secara Terbuka

Pater Marsel Agot, SVD

MANGGARAI BARAT NTT, Pelita.co- Pater Marsel Agot, SVD menyampaikan klarifikasi secara terbuka terkait tudingan sejumlah orang yang menyebut Dirinya melakukan aksi provokasi di salah satu bidang tanah di Labuan Bajo. Tudingan itu dimuat di dalam salah satu media online beberapa waktu belakangan

Setidaknya ada 7 poin klarifikasi dari Pater Marsel yang berisi bantahan, fakta yang sebenarnya terjadi, kronologis peristiwa hingga meminta pihak yang menuding serta wartawan media online yang menulis berita tersebut untuk meminta maaf secara terbuka 3 kali 24 jam sejak klarifikasi tersebut diterbit pada 31 Januari 2026

“Saya, menyampaikan klarifikasi ini kepada Bapak/Ibu dan seluruh warganet sebagai tanggapan atas pemberitaan media online BAJO PEDIA tanggal 27 Januari 2026 dengan judul: ”Pater Marsel Agot pimpin masa bawa parang, anak buah Alo Oba ketakutan dan memilih pulang” ungkap Pater Marsel melalui klarifikasi terbuka yang diterima media ini pada Sabtu 31 Januari 2026

Pater Marsel mengatakan pemberitaan tersebut tidak sesuai fakta, menyesatkan publik, dan telah mengarah pada fitnah serta pencemaran nama baik, sehingga mencederai martabatnya sebagai pribadi, keluarga, dan sebagai Imam Katolik

Ia mengungkapkan bahwa sesungguhnya yang terjadi pada Selasa 27 Januari 2026 itu adalah bahwa sekitar pukul 16.00 WITA, Ia bersama 16 orang karyawan Yayasan Prundi datang ke lahan miliknya itu dengan tujuan menanam pilar, dan membuat pagar batas tanah

Kehadiran mereka murni untuk aktivitas kerja, bukan untuk konfrontasi, intimidasi, apalagi melakukan kekerasan

Dari 16 orang tersebut kata Pater Marsel, dua di antaranya membawa parang sebagai alat kerja kebun yang lazim digunakan, selebihnya membawa pilar, skop, dan satu buah linggis. Ia tegaskan bahwa tidak ada satu orang pun di antara mereka yang dipersiapkan untuk tujuan kekerasan

Di lokasi tanah miliknya itu Pater Marsel bersama 16 orang pegawai nya dari yayasan Perundi Labuan Bajo itu bertemu dengan seseorang bernama Jhon Jeriki dan Mansur, yang mengaku sebagai penjaga lahan yang ”diklaim” milik Alo Oba dan ketiganya terlibat percakapan

Dalam percakapan itu kata Pater Marsel, Jhon Jeriki menyampaikan bahwa Alo Oba berencana menguasai lahan itu dengan memasang baliho

Mendengar cerita dari Jhon Jeriki itu, Pater Marsel memberikan masukan dengan merujuk pada filosofi budaya Manggarai agar tidak melakukan tindakan yang memicu terjadinya konflik

“Menanggapi hal tersebut, saya menyampaikan nasihat secara tenang, merujuk pada Filosofi budaya Manggarai, agar berhati-hati dan tidak sampai terjadi konflik hanya karena persoalan tanah sejengkal” ungkapnya

Setelah itu Pater Marsel bersama para pegawainya beristirahat sebentar di sisi lain area lahan tersebut hingga sekitar pukul 17.30 WITA Mansur yang merupakan salah satu penjaga lahan Alo Oba mendatangi mereka

Ketika itu Mansur mengingatkan kepada Pater Marsel agar berhati hati dengan Alo Oba yang merupakan bos nya itu. Penyampaian Mansur itu kata Pater Marsel didengar dan disaksikan oleh Staf dan karyawan Prundi

Kepada Pater Marsel, Mansur menyampaikan rencana Alo Oba bos nya itu untuk memasang baliho dan pilar di tanah yang disebut Pater Marsel sebagai tanah miliknya itu. Namun pernyataan Mansur itu tidak ditanggapi oleh Pater Marsel secara emosional

“Dia dengan tenang menyampaikan bahwa saudara Alo Oba selaku Bosnya berencana memasang baliho dan pilar di lahan Saya/Yayasan namun pernyataan tersebut tidak ditanggapi saya secara emosional” ujar Pater Marsel

Sesudah 20 menit bercakap dengan Mansur muncul berita yang berjudul ”Pater Marsel Agot pimpin masa bawa parang, anak buah Alo Oba ketakutan dan memilih pulang”.

Pater Marsel pun terkejut membaca berita tersebut yang dinilainya tidak sesuai dengan fakta yang terjadi

Ia menuturkan, tidak pernah terjadi konfrontasi, ancaman, intimidasi, atau tindakan kekerasan terhadap siapa pun, tidak ada ucapan maupun perbuatan yang dapat ditafsirkan sebagai ajakan perang. Seluruh aktivitas yang berlangsung saat itu sesuai tujuan awal, yaitu menanam pilar dan membuat pagar batas tanah

Pemberitaan tersebut menurutnya telah menyerang dan mencederai kehormatan dan martabatnya

“Judul dan framing pemberitaan tersebut telah menyerang kehormatan dan martabat saya, merugikan saya secara pribadi, sosial, dan moral, serta mencederai martabat jabatan saya sebagai Imam Katolik” kata Pater Marsel

Penyematan narasi perang dan kekerasan dalam berita tersebut menurutnya berpotensi memprovokasi publik, menciptakan stigma, serta menimbulkan keresahan bagi public, tarekat SVD, keluarga dan umat

Terkait hal itu Ia meminta beberapa orang termasuk wartawan tersebut untuk meminta maaf secara terbuka

“Sehubungan dengan hal tersebut, saya meminta secara terbuka kepada Saudara Mansur, Sdr. Alo Oba, oknum wartawan BAJO PEDIA yang menulis berita tersebut serta pihak-pihak lain yang terlibat, untuk menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada saya dalam waktu 3 x 24 jam sejak tanggal klarifikasi ini diterbitkan” ungkap Pater Marsel

Jika permintaan maaf itu tidak dilakukan maka Pater Marsel akan menempuh jalur hukum

“Apabila permintaan tersebut tidak dipenuhi, maka saya akan menggunakan hak-hak hukum yang tersedia guna memulihkan martabat dan nama baik saya” ujarnya

Klarifikasi tersebut kata Pater Marsel disampaikan untuk meluruskan fakta, menghadirkan keseimbangan informasi di ruang publik, serta mencegah masyarakat dibentuk oleh satu narasi yang keliru

Ia berharap agar media melaksanakan tugas dan fungsinya secara bertanggung jawab

“Saya berharap media menjalankan fungsinya secara bertanggung jawab dan memberikan ruang yang adil bagi kebenaran” ungkap Pater Marsel menutup klarifikasinya itu