MANGGARAI NTT, Pelita.co- Anak anak Taman Seminari Fyllano Pela Melakukan Kegiatan Kunjungan Ke Rumah Adat Gendang Bung Kaca desa Bulan kecamatan Ruteng kabupaten Manggarai provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Kamis 8 Mei 2025
Kunjungan ini bertujuan untuk mempelajari budaya dan simbol simbol adat dengan tema “Menanamkan Nilai Nilai Budaya Manggarai Kepada Anak Sejak Dini”
Taman Seminari Fyllano Pela ini berada di bawah naungan Yayasan Fyllano We’ang Gerak yang berlokasi di Pela desa Bulan kecamatan Ruteng
Sekolah ini berada di bawah tanggung jawab Kementerian Agama dan merupakan satu satunya di kabupaten Manggarai saat ini
Anak anak usia dini dari Taman Seminari Fyllano Pela ini mengikuti kegiatan kunjungan itu dengan tampilan yang rapi. Mereka mengenakan busana adat manggarai
Bocah laki laki tampil bersahaja mengenakan kemeja putih dibalut sarung songke, selendang songke dan topi songke
Sementara bocah perempuan tampil cantik dibalut kebaya dipadu dengan sarung songke, selendang songke dengan Bali belo di kepala mereka menjadikan mereka tampil begitu anggun
Mereka tiba di rumah adat gendang Bung Kaca kurang lebih PKL. 08.00 WITA didampingi para guru yang juga mengenakan busana adat Manggarai
Orang tua murid juga hadir menemani anak mereka hingga kegiatan itu selesai
Kunjungan anak anak Taman Seminari Fyllano Pela ini disambut para tokoh adat dan warga kampung Bung Kaca yang juga berbusana adat Manggarai
Kegiatan itu dihadiri oleh Kepala Kantor Kementerian Agama (Kakan Kemenag) kabupaten Manggarai, Pontius Muldin, S.Fil, Pengawas Pendidikan Agama Katolik tingkat dasar, Marianus Darwin Ratulangi, S.Pd, Kepala Bidang Pendidikan Agama Katolik, Yohanes Masgur, S.S,
Hadir juga ketua Yayasan Fyllano We’ang Gerak, Fransiskus Sudirman, Bhabinkamtibmas desa Bulan AIPDA Arkadius Arno bersama Bhabinkamtibmas kecamatan Lelak Charles Darwin Jansen
Kedatangan Kakan Kemenag dan rombongan ini disambut secara tata budaya Manggarai mulai penjemputan atau curu hingga penerimaan di dalam rumah adat berupa kapu
Uniknya, yang menjadi jubir atau tukang torok pada sesi penjemputan rombongan Kakan Kemenag disampaikan oleh salah seorang di antara anak anak itu, yaitu Aleksander Deodatus Putera De Pantur
Sementara seorang anak lainnya, Alfriano Jeramat menjadi jubir wale reis atau kepok saat mereka diterima tokoh adat di dalam rumah adat gendang Bung Kaca
Kedua bocah ini dengan fasih menyampaikan torok itu menggunakan bahasa Manggarai tanpa tersendat
Tidak hanya itu, anak anak lain juga membawakan Do’a makan bahkan penyampaian ucapan terimakasih pun disampaikan oleh anak anak itu
Dalam kunjungan ini anak anak diberikan pemahaman tentang budaya dan diperkenalkan fasilitas atau simbol budaya Manggarai seperti Rumah adat, gong, gendang, alat pemukul gong dan gendang dan lain sebagainya
Pengenalan rumah adat dan fasilitas budaya ini dibawakan oleh salah satu tokoh adat gendang Bung, Yustinus Miun
Dalam sesi ini Yustinus menanyakan kembali kepada satu per satu anak anak itu tentang materi yang sebelumnya telah Ia jelaskan baik terkait rumah adat maupun fasilitas lain di dalamnya
Dengan muka polos, anak anak itu mampu menjawab pertanyaan dari Yustinus tanpa ragu
Jawaban mereka yang tepat menuai keheranan dari semua yang ada di dalam rumah adat itu sembari memberikan tepuk tangan apresiasi
Kegiatan ini dibuka oleh Kakan Kemenag kabupaten Manggarai, Pontius Muldin, S.Fil yang didahului dengan sambutan Kepala Taman Seminari Fyllano, Yustina
Dalam sambutannya, Kakan Kemenag kabupaten Manggarai, Pontius Muldin, S.Fil mengatakan bahwa kegiatan tersebut bukan sekedar kunjungan tetapi untuk memperkenalkan dan menanamkan pemahaman warisan budaya kepada anak sejak dini
“Kegiatan ini tentu bukan hanya sekedar kunjungan tetapi merupakan sebuah perjalanan untuk mengenal dan memahami warisan budaya yang kaya, warisan nenek moyang kita serta nilai luhur yang terkandung di dalamnya” ungkap Pontius
Pontius mengemukakan setidaknya 6 (enam) manfaat anak Taman Seminari Fyllano Pela mengunjungi rumah adat gendang Bung, yaitu Pengenalan budaya, pembelajaran sejarah, pengembangan sosial, stimulasi kreativitas, pembelajaran praktis, pengembangan emosional
Ada beberapa nilai penting yang menurutnya dapat diambil oleh anak anak dari kunjungan tersebut, antara lain nilai cinta budaya, nilai kebersamaan dan kerja sama, nilai pengenalan identitas diri, nilai nilai moral, nilai kreativitas dan keterampilan
Kunjungan ke rumah adat gendang Bung tambahnya bukan juga hanya sekedar kegiatan edukatif tetapi juga merupakan langkah penting dalam membentuk karakter dan kepribadian anak anakku
Ia ingatkan bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung di dalam kelas tetapi juga melalui pengalaman dan interaksi dengan lingkungan sekitar
Pontius mengatakan berkomitmen untuk mendukung pelaksanaan kegiatan di Taman Seminari Fyllano yang berlokasi di Pela desa Bulan itu
Sementara itu, kepala Taman Seminari Fyllano Pela, Yustina Iman, S.Pd mengatakan, kegiatan tersebut bertujuan untuk menanamkan nilai nilai budaya Manggarai kepada anak anak di sekolahnya sejak dini
“Kegiatan hari ini memiliki tujuan yang mulia yaitu menanamkan nilai nilai budaya Manggarai kepada anak anak Taman Seminari Fyllano Pela sejak dini” ungkap Yustina
Secara rinci Yustina menyebutkan tujuan dari kunjungan tersebut, antara lain edukasi budaya, pengalaman nyata, menstimulasi rasa ingin tahu, menjalin kedekatan dengan komunitas serta dokumentasi dan pelestarian budaya
Rumah adat atau Mbaru gendang kata Yustina bukan sekedar tempat tinggal melainkan pusat kehidupan sosial, budaya dan spiritual
Yustina menyebut rumah adat sebagai jantung budaya Manggarai yang menyimpan banyak kearifan lokal, nilai nilai kebersamaan, gotong royong dan penghormatan kepada tradisi yang patut dilestarikan dan diwariskan
Ia menjelaskan makna kunjungan dari anak anak Taman Seminari Fyllano Pela tersebut yaitu pengenalan budaya lokal (budaya Manggarai), pembelajaran nilai nilai tradisional, menghargai identitas diri, menumbuhkan rasa cinta tanah air dan pembelajaran kontekstual
Melalui kunjungan tersebut Ia harapkan anak anak tidak sekedar melihat rumah adat sebagai bangunan fisik semata tetapi juga dapat merasakan atmosfir spiritual dan memahami makna filosofis yang terkandung di dalamnya
Anak anak akan dapat belajar tentang arsitektur, sejarah, fungsi serta nilai nilai sosial budaya yang hidup dalam rumah adat
Anak anak Taman Seminari Fyllano Pela adalah generasi masa depan sebagai pewaris dan penerus budaya Manggarai yang diwariskan turun temurun dari nenek moyang
Dalam konteks Manggarai, Ia menganalogikan anak anak itu seperti bambu yang selalu tumbuh tunas baru meski yang sudah tua perlahan mati. Analogi itu ia simpulkan dalam istilah “Mata Betong Asa, Manga Wake Nipu Tae. Muntung Gurung Pu’u, Manga Wungkut Nipu Curup”
Dalam kesempatan itu Yustina apresiasi dan terimakasih atas kehadiran pihak Kemenag. Ia menyebut kehadiran Kakan Kemenag sebagai bentuk dukungan besar terhadap upaya pelestarian nilai nilai budaya sebagai bagian integral dari pembentukan karakter anak bangsa
Demikian juga kepada para tokoh adat gendang Bung. Tokoh adat gendang Bung tambahnya menjadi sumber pengetahuan dan inspirasi dalam memahami dan menghayati kearifan lokal Manggarai
Ia berterimakasih juga kepada masyarakat, orang tua murid atas kepercayaan dan dukungan terhadap pelaksanaan program pendidikan di Taman Seminari Fyllano Pela termasuk kegiatan pelestarian budaya
Menurutnya, sinergi antara sekolah, keluarga dan masyarakat adalah kunci keberhasilan dalam mendidik anak anak menjadi generasi yang cerdas, berkarakter dan memiliki identitas budaya yang kuat
Yustina juga menyampaikan apresiasi kepada para guru pendamping yang telah mengabdi penuh dedikasi dalam mempersiapkan kegiatan tersebut
Sekilas Yustina menjelaskan tentang Taman Seminari Fyllano Pela itu
Taman Seminari adalah tempat persemaian yang akan menghasilkan benih benih unggul. Dengan demikian Taman Seminari Fyllano Pela ini adalah lembaga pendidikan, tempat anak anak usia dini untuk dididik agar kelak menjadi manusia yang unggul berkualitas
Secara umum kata taman merujuk pada suatu area tanah yang ditanami bunga. Taman identik dengan keindahan. Sedangkan Seminari berasal dari bahasa Latin yaitu seminarium yang secara harafiah berarti tempat persemaian benih
Diwawancarai usai kegiatan tersebut, salah satu tokoh adat gendang Bung, Yustinus Miun mengaku bangga dan berterimakasih karena rumah adat gendang Bung Kaca menjadi objek kunjungan anak anak Taman Seminari untuk belajar dan mengenal budaya sejak dini
“Kami warga gendang Bung Kaca merasa bangga dan berterimakasih karena rumah adat kami menjadi objek kunjungan anak anak Taman Seminari Fyllano Pela untuk mengenal dan belajar lebih dini karakter budaya” ungkap Yustinus
Menurutnya kunjungan ini adalah momen penting memberikan edukasi kepada anak tentang adat serta fasilitas di dalam rumah adat agar generasi mereka nanti paham tentang budaya
Ia berharap agar ke depan edukasi tentang adat kepada anak sejak dini harus ditingkatkan agar adat atau budaya tidak tergerus seiring perkembangan zaman
Kunjungan anak anak Taman Seminari Fyllano Pela ini diakhiri dengan foto bersama dan menari bersama dengan pihak Kemenag, para tokoh adat dan orang tua murid di halaman rumah adat gendang Bung Kaca