Beranda News

Tak Bisa Kerja Berat Akibat keterbatasan Fisik, Warga Ranggi Manggarai Butuh Perhatian Pemerintah Untuk Modal Usaha Hidupi Keluarga

Karolus Jeneot, Warga Desa Ranggi Kecamatan Wae Rii Kabupaten Manggarai NTT

MANGGARAI NTT, Pelita.co-  Semangat juang pria yang satu ini patut diapresiasi. Bagaimana tidak, keterbatasan fisik dan usianya yang tidak lagi muda Ia tetap memiliki tekad dan semangat juang yang tinggi untuk menghidupi keluarganya

Adalah Karolus Jeneot (62), warga RT 03 RW 01 desa Ranggi, kecamatan Wae Rii, kabupaten Manggarai, provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT)

Sebelumnya Karolus menggeluti bisnis jual beli ikan kering untuk menghidupi keluarganya

Karolus mengalami keterbatasan fisik setelah kaki kirinya diamputasi tahun 1998 silam akibat mobil yang ditumpanginya terguling ke dalam jurang di wilayah kecamatan Cibal sepulang beli ikan dari Reo tahun 1988

Akibat kecelakaan itu tulang kering bagian belakang pecah hingga mengalami pergeseran posisi. 10 tahun kemudian harus diamputasi karena tidak kunjung sembuh total meski seringkali mendapat penanganan medis bahkan pengobatan alternatif

Saat ini Karolus bersama isterinya, Anastasya Dahing (58) tinggal di rumah anak sulung mereka di Ranggi. Karolus memiliki 4 orang putera, dua diantaranya telah menikah

Dengan dua tongkat besi di sampingnya, Karolus duduk di sebuah kursi di teras depan rumah anaknya itu, Ia tampak bingung saat media ini menghampirinya pada Kamis sore 7 Mei 2026 lalu

Keramahan dan senyumnya terlihat setelah saya memperkenalkan diri lalu mengajaknya berbincang bincang

Dalam bincang bincang itu Karolus mengungkapkan niatnya untuk bekerja menghasilkan uang agar bisa menghidupi keluarganya, namun keterbatasan fisik membuat keinginan itu tidak bisa terwujud karena tidak bisa mengerjakan pekerjaan berat

Meski demikian tekad kuat yang didasari jiwa pekerja kerasnya, Ia tetap ingin mewujudkan niat nya itu

Untuk mewujudkan tekad nya itu, Karolus berniat untuk kembali menjalankan bisnis namun bukan lagi bisnis jual beli ikan seperti sedia kala tetapi usaha jual beli barang kios

Niatnya itu masih sulit terrealisasi karena ketiadaan modal untuk memulainya

Ia pun berharap akan adanya perhatian pemerintah agar bisa menyediakan modal usaha baginya

Bahkan secara terbuka Ia berharap bantuan dari gubernur NTT, Melki Lakalena

“Sekarang ini saya berencana kalau betul betul pemerintah ada perhatian untuk saya yang cacat berat ini, saya butuh modal untuk usaha, karena itu tolong sampaikan keluhan saya ini kepada pemerintah syukur syukur kalau bisa sampai ke pak Gubernur pak Melki Laka Lena” ujar ayah 4 orang putera ini

Meski begitu Karolus tidak menyebut berapa modal yang dibutuhkannya untuk membuka usaha tersebut

“Saya tidak sebut berapa modal yang saya butuh, itu tergantung hati baik pemerintah. Saya mau buka usaha kios” ujarnya penuh harap

Harapannya Karolus hampir terwujud, di mana tahun 2024 lalu pegawai Dinas Sosial kabupaten Manggarai mendatangi rumahnya dan membawa serta formulir usaha yang saat itu diisi oleh Karolus

Namun sepanjang tahun 2024 hingga saat ini tidak ada informasi terkait formulir yang telah diisinya itu dari dinas sosial kabupaten Manggarai. Formulir itu pun kini masih menjadi tanda tanya bagi Karolus

”Pernah tahun 2024 pegawai dari dinas sosial datang menanyakan keterangan usaha saya mereka kasi saya formulir untuk saya isi dan waktu itu saya isi usaha kios terapi sampai sekarang tidak ada kabar” ujarnya

Kepada media ini Karolus mengaku tidak pernah mendapat bantuan khusus dari pemerintah terkait statusnya yang Ia sebut sebagai penyandang cacat berat permanen

”Tidak ada, saya tidak pernah dapat bantuan khusus sebagai orang penyandang cacat berat permanen, baik dari pemerintah pusat, pemerintah provinsi, kabupaten maupun pemerintah desa” ungkap Karolus

Karolus Jeneot Didampingi Isterinya Anastasya Dahing

Namun Ia menyebut pernah mendapat bantuan kaki palsu dari dinas sosial kabupaten Manggarai jauh sebelum kedatangan pegawai dinas tersebut pada 2024 lalu. Sayangnya kaki palsu itu Ia tidak gunakan karena merasa tidak nyaman saat berjalan

Sementara itu kepala desa Ranggi, Agus Ce Ha mengatakan pemerintah desa telah memberikan perhatian rehabilitasi rumah

”Pemdes telah memperhatikannya melalui Rehabilitasi rumahnya” ungkap Agustinus

Terkait modal usaha yang diharapkan Karolus Ia katakan tergantung kondisi keuangan desa

”Soal modal usaha kembali kepada kondisi keuangan desa” tambahnya

Agustinus mengatakan pihaknya akan berkoordinasi dengan pemerintah daerah serta terus memantau dan mengawal berkaitan dengan upaya yang sebelumnya dilakukan Dinas Sosial kabupaten Manggarai

Karolus menyebut Ia pernah mendapat bantuan kaki palsu dari dinas sosial kabupaten Manggarai jauh sebelum kedatangan pegawai dinas tersebut pada 2024 lalu. Sayangnya kaki palsu itu Ia tidak gunakan karena merasa tidak nyaman saat berjalan

Ia pun kini hanya menggunakan tongkat besi rakitan untuk sekedar membantunya berjalan di dalam dan sekitar rumah

Lebih lanjut Ia ungkapkan bahwa pasca kakinya diamputasi, Ia memanfaatkan keterampilannya menjahit dan menganyam keranjang untuk mendapatkan uang, itu pun tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga apalagi pendidikan anaknya

Dalam kesempatan itu Karolus mengisahkan kronologis kecelakaan yang berujung pada dilakukan amputasi kaki kirinya itu oleh dokter

Tahun 1988 silam, Karolus yang saat itu menggeluti bisnis jual beli ikan kering, pulang mengambil ikan dari Reo dengan menumpangi mobil bersama penumpang lainnya

Setibanya di daerah Cibal, mobil yang ditumpanginya terguling ke dalam jurang. Karolus berada di dalam mobil sepanjang mobil itu terguling

Akibatnya, tulang kering bagian belakang kaki kirinya retak hingga mengalami pergeseran posisi. Dalam kondisi tidak sadar, Ia sempat mendapat perawatan di puskesmas di Pagal, namun Karena fasilitas yang tidak memadai, Ia pun dirujuk ke Rumah Sakit di Ruteng

Tiga bulan dirawat di rumah sakit, Karolus keluar namun kakinya saat itu belum sembuh total. Ia memutuskan mencari pengobatan alternatif

Pengobatan alternatif itu tambahnya sempat sembuh meski tidak sepenuhnya

Sejak itu Ia tidak lagi bisa bekerja. Kesulitan ekonomi pun menerpa keluarganya hingga isteri dan anak anaknya hanya makan ubi. Kondisi itu berlangsung di tengah anak anaknya masih kecil dan membutuhkan nutrisi

Tidak tega dengan kondisi itu, beberapa tahun kemudian, tepatnya tahun 1994 Karolus kembali menggeluti bisnis lamanya yaitu jual beli ikan

Bisnisnya kala itu Ia putar arah membeli ikan di Labuan Bajo, bukan lagi di Reo

Sepulang membeli ikan dari Labuan Bajo, Karolus jatuh terperosok ke dalam got di pasar puni Ruteng saat turun dari mobil yang saat itu merasa pusing sehingga mengakibatkan kaki kirinya kembali terganggu dan mengalami bengkak

Oleh keluarganya, Karolus kembali dibawa ke Rumah Sakit Ruteng dan dilakukan Rontgen. Hasil Rontgen itu menunjukan bagian belakang tulang kering kaki kirinya itu mengalami pergeseran posisi dan bernanah

Setelah beberapa lama di Rumah Sakit Ruteng Karolus kembali ke kampungnya di Ranggi

Sejak saat itu Ia memilih mendapatkan penanganan salah satu dokter praktek di Ruteng dan itu berlangsung selama beberapa tahun

Sakit tak kunjung sembuh total, uang tidak lagi punya. Kehidupan Karolus dan keluarganya semakin sulit

Karolus Jeneot Dalam Suatu Kesempatan Di Rumah Anaknya

Tahun 1998, dokter praktek tersebut menyarankan Karolus untuk ke Rumah Sakit St. Damian Cancar yang saat itu bertepatan dengan kedatangan dokter dari Australia

Di situ, dokter menyarankan agar kaki kirinya diamputasi

Karolus tidak langsung mengiyakan tawaran itu dan meminta waktu untuk berpikir. Keesokan harinya Ia memutuskan menyetujui amputasi tersebut

Setelah diamputasi, Karolus terus mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Cancar tersebut

Beberapa lama dirawat, Suster pengelola Rumah Sakit St. Damian Cancar menawarkan Karolus untuk tinggal di yayasan itu selamanya

Tidak langsung mengiyakan tawaran itu, Karolus terlebih dahulu berkonsultasi dengan dokter praktek yang sebelumnya menanganinya

Hasil konsultasi tersebut membuat Karolus memutuskan untuk tidak menerima tawaran tersebut dan memilih kembali ke keluarganya

Semangat juang Karolus tak surut. Ia terus berpikir bagaimana bisa mendapatkan uang

Didorong rasa tanggungjawabnya Ia memanfaatkan keahliannya dalam menjahit dan menganyam bambu menjadi keranjang

Dari kerjanya itu Karolus mendapatkan uang. Meski tidak sepenuhnya menutupi kebutuhan, setidaknya sedikit membantu keluarganya sekaligus menunjukan tanggungjawabnya sebagai seorang ayah

Kini harapan terbesar yang ingin Ia capai adalah bantuan modal usaha dari pemerintah untuk membuka usaha kios