MANGGARAI NTT, Pelita.co- Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai, Jefrin Haryanto, MSi., CPSt., CSHt, menegaskan bahwa integritas jurnalis merupakan faktor paling menentukan dalam menjaga objektivitas dan kualitas pemberitaan, terutama di tengah tekanan kepentingan, derasnya arus informasi, serta dilema moral yang kerap dihadapi insan pers
Hal tersebut disampaikan Jefrin saat menjadi pemateri dalam Workshop Jurnalistik yang diselenggarakan Persatuan Jurnalis Kabupaten Manggarai (PRISMA) di Aula Dinas Kesehatan Manggarai, Senin (9/2/2026)
Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026
Dalam materinya bertajuk “Di Balik Berita: Moralitas, Psikologi, dan Integritas Jurnalis dalam Menjaga Kebenaran”, Jefrin menekankan bahwa kerja jurnalistik tidak sekadar mengumpulkan dan menyampaikan fakta, tetapi juga melibatkan proses psikologis serta pertimbangan etika yang kompleks
“Setiap keputusan jurnalistik tidak lahir di ruang hampa. Ia dipengaruhi nilai pribadi, kesadaran etika, analisis fakta, serta tekanan eksternal seperti kepentingan politik, ekonomi, deadline, dan opini publik. Karena itu integritas menjadi kunci utama menjaga objektivitas berita,” tegas Jefrin
Integritas Jurnalis sebagai Benteng Objektivitas
Sebagai praktisi psikologi, Jefrin menjelaskan bahwa psikologi moral mempelajari bagaimana seseorang mengambil keputusan etis dalam situasi dilematis
Dalam praktik jurnalistik, kondisi tersebut merupakan realitas sehari-hari yang tak terhindarkan
Menurutnya, integritas pribadi jurnalis berfungsi sebagai benteng utama dari intervensi dan kepentingan tertentu
“Semakin kuat integritas seorang jurnalis, semakin objektif keputusan jurnalistik yang dihasilkan. Integritas mencerminkan keberanian untuk tetap berpihak pada kebenaran meski berada di bawah tekanan,” ujarnya
Ia menambahkan bahwa nilai pribadi jurnalis sangat mempengaruhi proses pemberitaan, mulai dari pemilihan sudut pandang, perlakuan terhadap narasumber, hingga penyajian fakta kepada publik
Dilema Moral dalam Praktik Jurnalistik
Jefrin juga menguraikan berbagai dilema etika jurnalistik yang kerap dihadapi jurnalis, seperti konflik antara kepentingan publik dan privasi korban, tuntutan kecepatan versus akurasi, serta tekanan redaksi maupun pihak eksternal
“Dalam situasi tekanan tinggi, manusia cenderung mengambil keputusan terburu-buru dan bias emosional. Karena itu, kode etik jurnalistik harus menjadi kompas utama,” jelasnya
Ia menegaskan bahwa kecepatan publikasi tidak boleh mengorbankan akurasi informasi
“Kecepatan memang penting, tetapi akurasi jauh lebih penting. Kesalahan informasi dapat berdampak luas bagi individu maupun masyarakat,” tambahnya
Pentingnya Verifikasi Fakta dan Sensitivitas Sosial
Dalam paparannya, Jefrin menekankan bahwa verifikasi fakta merupakan inti dari praktik jurnalistik profesional
“Verifikasi adalah jantung jurnalistik. Setiap informasi harus melalui proses pemeriksaan ketat, cross-check sumber, dan menghindari spekulasi,” tegasnya
Ia juga mengingatkan pentingnya sensitivitas sosial, khususnya dalam pemberitaan yang menyangkut korban, kelompok rentan, dan isu kemanusiaan
“Jurnalisme harus menghormati martabat korban, melindungi privasi narasumber, dan tidak mengeksploitasi penderitaan demi sensasi,” ujarnya
Menurutnya, sensasionalisme justru dapat merusak kualitas informasi dan menurunkan kepercayaan publik terhadap media
Jefrin menilai bahwa maraknya hoaks, tekanan media sosial, dan persaingan kecepatan publikasi menjadi tantangan serius bagi dunia jurnalistik saat ini. Kondisi tersebut menuntut jurnalis memiliki ketahanan moral dan psikologis yang kuat
“Jurnalis memiliki tanggung jawab sosial besar, bukan hanya menyampaikan informasi, tetapi juga menjaga stabilitas sosial dan meningkatkan literasi publik,” ungkapnya
Ia mengajak jurnalis untuk selalu melakukan refleksi moral sebelum mempublikasikan berita
“Tanyakan pada diri sendiri: apakah informasi ini benar, bermanfaat bagi publik, adil bagi semua pihak, dan menjunjung nilai kemanusiaan. Itulah kompas moral jurnalis,” katanya
Jurnalis sebagai Penjaga Kebenaran
Menutup materinya, Jefrin menegaskan bahwa jurnalisme beretika dan berintegritas merupakan fondasi penting bagi demokrasi yang sehat
“Jurnalis bukan hanya penyampai berita, tetapi penjaga kebenaran, moralitas, dan kemanusiaan. Dari integritas jurnalis lahir karya jurnalistik yang dipercaya publik,” pungkasnya
Workshop jurnalistik yang diselenggarakan PRISMA ini menjadi momentum penting untuk memperkuat komitmen jurnalis di Manggarai dalam menjaga profesionalitas, integritas, dan tanggung jawab sosial di tengah tantangan era digital.