Beranda Health

Puluhan Warga Desa Trirejo Diduga Keracunan Usai Kenduri Ruwahan, 51 Orang Alami Mual dan Diare

Ket foto: Warga Trirejo saat diperiksa dari dinas kesehatan Senin ( 16/2/2026)

PURWOREJO, pelita.co – Sedikitnya 51 warga Desa Trirejo, Kecamatan Loano, Kabupaten Purworejo, mengalami gejala diduga keracunan makanan setelah menghadiri kenduri tradisi Ruwahan pada Minggu (16/2/2026).

Para warga yang mengonsumsi nasi berkat dari acara doa bersama tersebut mulai merasakan gejala secara bertahap pada Senin (16/2/2026). malam. Keluhan yang dialami antara lain mual, muntah, sakit perut, pusing, dan diare.

Kepala Desa Trirejo, Andi, membenarkan adanya laporan warganya yang mengalami gangguan kesehatan secara serentak.

“Acara kenduri dilaksanakan Minggu malam. Senin siang warga yang mengonsumsi nasi berkat mulai merasakan diare, mual, dan sakit perut. Setelah didata perangkat desa, ada 51 orang yang mengalami gejala,” ujarnya saat dikonfirmasi.

Berdasarkan data sementara, sekitar 60 warga menghadiri kenduri tersebut. Hidangan nasi berkat diketahui tidak dimasak oleh tuan rumah, melainkan dipesan dari jasa katering di wilayah Purworejo.

Laporan dugaan keracunan diterima pemerintah desa sekitar pukul 15.00 WIB. Pemerintah desa kemudian berkoordinasi dengan puskesmas dan Dinas Kesehatan Kabupaten Purworejo untuk penanganan cepat.

Sejumlah warga dengan kondisi cukup lemah dirujuk ke beberapa fasilitas kesehatan, di antaranya RSUD dr. Tjitrowardojo, RSI Loano, serta puskesmas setempat. Tim medis juga melakukan pemeriksaan secara door to door karena sebagian warga memilih menjalani perawatan di rumah.

Salah satu warga Desa Trirejo, yang dirawat di RSI Loano, Bu Titik, mengaku mulai merasakan gejala pada dini hari setelah menyantap hidangan kenduri.

“Jam satu malam mulai mulas, lalu diare dan pusing. Sudah minum obat dan teh, tapi sampai pagi masih berlanjut,” tuturnya.

Untuk oenyebab pasti dugaan keracunan masih dalam penelusuran lebih lanjut, termasuk kemungkinan uji sampel makanan yang dikonsumsi para warga.

Pemerintah desa berharap kejadian ini menjadi perhatian bagi penyedia jasa boga agar lebih memperhatikan standar kebersihan dan keamanan pangan, sehingga peristiwa serupa tidak kembali terulang.