Ketua PC PERGUNU Kota Jakarta Selatan, Akhmad Nizar, menyampaikan bahwa pelaksanaan MBG di masa libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) justru menyimpan sejumlah persoalan teknis dan kebijakan. Menurutnya, distribusi makanan ke rumah siswa berbeda dengan mekanisme pelaksanaan saat hari sekolah, sehingga risikonya lebih tinggi.
“Pelaksanaan MBG saat libur sekolah berpotensi tidak efektif dan tidak efisien. Sistem distribusi yang tidak berjalan seperti kondisi normal bisa menimbulkan persoalan pendataan, pengawasan, serta pemborosan anggaran. Pengantaran ke rumah siswa juga bukan hal sederhana karena memerlukan logistik besar,” tegas Akhmad Nizar melalui surat pernyataan sikap PC PERGUNU Kota Jakarta Selatan, Selasa (23/12/2025).
PERGUNU Jakarta Selatan menyampaikan beberapa poin sikap resmi. Pertama, menolak keras pelaksanaan MBG di saat libur Nataru karena dinilai tidak tepat secara waktu dan kurang mempertimbangkan asas efisiensi, urgensi, serta kebermanfaatan nyata bagi masyarakat.
Kedua, PERGUNU mendorong agar sebagian anggaran sementara dialihkan untuk membantu korban bencana di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan wilayah lain yang terdampak bencana. “Dalam situasi darurat kemanusiaan, negara wajib mengedepankan empati, solidaritas, dan keberpihakan kepada rakyat yang sedang mengalami musibah,” ujar Akhmad Nizar.
Ketiga, PERGUNU menilai masa libur seharusnya dimanfaatkan sebagai momentum evaluasi total terhadap kebijakan MBG, baik dari sisi perencanaan, pelaksanaan, hingga pengawasan agar program benar-benar tepat sasaran dan transparan.
Keempat, PERGUNU Jakarta Selatan mendesak pemerintah dan Badan Gizi Nasional (BGN) membuka ruang dialog dengan masyarakat, khususnya kalangan pendidik dan organisasi profesi guru, sebelum menetapkan kebijakan strategis.
“Pernyataan sikap ini adalah bentuk tanggung jawab moral kami untuk mengawal kebijakan publik agar berpihak pada kepentingan rakyat dan nilai kemanusiaan,” pungkas Akhmad Nizar.