
PURWOREJO – Pelestarian seni tradisional dapat menjadi sarana efektif untuk menyampaikan pesan edukasi kepada masyarakat. Hal inilah yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Purworejo melalui Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik, dan Persandian (Dinkominfostasandi) dengan menggelar pentas ketoprak berlakon “Wurung” di Pendopo Kutoarjo, Rabu malam (14/10/2026).
Kegiatan yang dikemas melalui Forum Komunikasi Media Tradisional (FK Metra) tersebut merupakan hasil kolaborasi Dinkominfostasandi Kabupaten Purworejo dengan Dewan Kesenian Purworejo (DKP) dan Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (MAFINDO). Pentas ini menghadirkan tim produksi Lare Seniman yang memadukan kesenian tradisional dengan pesan-pesan penting mengenai literasi digital.
Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua Dewan Kesenian Purworejo, Agus Pramono, serta narasumber dari MAFINDO, Kasihani, yang turut terlibat sebagai pemain dalam pertunjukan. Sejumlah pemain, kerabat kerja, dan tim produksi Lare Seniman juga ikut menyukseskan pementasan tersebut.

Kepala Dinkominfostasandi Kabupaten Purworejo, Ganis Pramudito, S.S.T.P., M.Si., mengatakan perkembangan teknologi informasi memberikan kemudahan bagi masyarakat dalam memperoleh dan menyebarkan informasi. Namun, kemudahan tersebut juga harus diimbangi dengan kemampuan memilah informasi agar masyarakat tidak mudah terpengaruh berita bohong, hoaks, maupun konten negatif.
Menurutnya, pemanfaatan seni tradisional menjadi salah satu pendekatan yang relevan untuk menyampaikan edukasi digital. Melalui pertunjukan ketoprak, pesan pemerintah dapat disampaikan dengan cara yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.
“Ketoprak tidak hanya menjadi tontonan yang menghibur, tetapi juga tuntunan yang mengandung nilai-nilai kehidupan. Budaya lokal memiliki kekuatan untuk menyampaikan pesan edukasi secara menarik, mudah dipahami, sekaligus mempererat hubungan sosial di tengah masyarakat,” ujar Ganis.
Baca Juga: BPOB Perkuat Kolaborasi untuk Kembangkan Potensi Wisata Borobudur Highland di Purworejo
Selain mengajak masyarakat melestarikan budaya Jawa, pementasan lakon “Wurung” juga mengangkat pentingnya etika dalam bermedia sosial serta perlindungan anak dari berbagai risiko di ruang digital.
Ganis menjelaskan, anak-anak saat ini semakin dekat dengan penggunaan gawai dan berbagai platform digital. Tanpa pendampingan yang memadai, mereka berpotensi menghadapi sejumlah ancaman, mulai dari perundungan siber (cyberbullying), penipuan daring, penyebaran informasi palsu, hingga paparan konten yang tidak sesuai dengan usia.
Karena itu, ia menekankan pentingnya dukungan masyarakat terhadap kebijakan pemerintah dalam memperkuat perlindungan anak di ruang digital, termasuk melalui Peraturan Menteri Komunikasi dan Digital Nomor 9 Tahun 2026 sebagai aturan pelaksanaan PP TUNAS tentang Tata Kelola Perlindungan Anak dalam Penyelenggaraan Sistem Elektronik.
Kebijakan tersebut, lanjutnya, diarahkan untuk memperkuat perlindungan anak, termasuk pengaturan akses terhadap layanan digital dan platform berisiko sesuai ketentuan yang berlaku. Upaya ini diharapkan dapat menjaga kesehatan mental, mendukung tumbuh kembang anak, serta mengurangi risiko kejahatan siber dan paparan informasi yang merugikan.
Di sisi lain, peran orang tua dan keluarga dinilai sangat penting dalam membangun kebiasaan digital yang sehat. Pendampingan penggunaan gawai, komunikasi terbuka dengan anak, serta pemahaman mengenai keamanan digital menjadi langkah yang perlu dilakukan secara berkelanjutan.
Ganis menegaskan, perlindungan anak di dunia maya tidak dapat dibebankan hanya kepada pemerintah. Diperlukan kerja sama antara keluarga, masyarakat, komunitas seni, dan berbagai pihak terkait agar edukasi digital dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat.
Baca Juga: Purworejo Perkuat Sinergi Lintas Sektor untuk Percepat Penurunan Stunting
“Pemerintah daerah tidak bisa berjalan sendiri. Peran keluarga, orang tua, komunitas FK Metra, dan para seniman sangat menentukan keberhasilan perlindungan anak di ruang digital. Mari jadikan keluarga sebagai benteng pertama dalam menyaring informasi dan mendampingi anak agar tumbuh cerdas, aman, serta berkarakter,” pungkasnya.
Melalui kegiatan ini, Pemkab Purworejo berharap seni tradisional semakin berperan sebagai media komunikasi publik yang edukatif dan membumi. Kolaborasi antara pemerintah, pegiat budaya, dan komunitas literasi digital diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat untuk lebih bijak bermedia sosial sekaligus menjaga kelestarian kesenian daerah.













