
MANGGARAI NTT, Pelita.co- Kepedulian terhadap korban gempa Flores provinsi Nusa Tenggara Timur Magnitudo 7,7 yang terjadi pada 15 Agustus 2026 lalu datang dari Blasteran Indonesia – Belanda, Wela Sarah
Wela Sarah merupakan wanita kelahiran Belanda dari pasangan ibu Rosalia De Rosari asal Wae Rana Manggarai Timur dan Ayah Ferdinan De Kok
Lahir besar di negara Belanda, namun darah Manggarai Timur Flores yang terus mengalir di tubuh Wela Sarah menuntun hati dan pikirannya untuk tidak melupakan tanah leluhur dari sang ibu
Di tengah kesedihan dan kondisi ekonomi keluarga warga Flores terutama di Manggarai Raya yang Morat Marit akibat gempa, hati Wela Sarah tergerak ‘pulang kampung’ untuk berbagi dengan warga terdampak
Wela Sarah turun langsung menemui warga terdampak memberikan bantuan berupa beras 5 kg, telur 1 papan dan minyak goreng 1 botol
Bantuan dari Wela Sarah bersama Keluarganya itu menyebar di beberapa lokasi terdampak di Manggarai Timur, Manggarai dan Manggarai Barat
Baca Juga: Rayakan HUT Lantas Bhayangkara Ke 71, Satlantas Polres Manggarai Berkomitmen Tingkatkan Pelayanan
Dalam wawancara dengan Media ini di Ruteng pada Kamis 7 Oktober 2026, Wela Sarah yang terdengar cukup lancar berbahasa Indonesia mengatakan bahwa Ia dan keluarganya merasa prihatin atas apa yang dialami oleh seluruh warga Flores akibat gempa tersebut
Wanita muda 26 tahun berparas Eropa ini mengatakan bahwa Ia telah berada di Manggarai selama 2 Minggu terakhir
Selama 2 Minggu itu Ia melaksanakan aktivitas kemanusiaan dengan membagikan bantuan sembako kepada lebih dari 650 korban gempa Flores di Manggarai dan Manggarai Timur
“Saya sudah ada di sini dua Minggu. Saya sudah tolong 650 rumah (KK) untuk kasih beras, telur dan minyak oreng” ujar Sarah

Tidak hanya sembako, Wela Sarah juga mengaku akan membantu merenovasi 7 rumah warga
Kepedulian Sarah dan keluarganya tidak hanya menyasar rumah warga tetapi juga fasilitas umum seperti sekolah dan gereja
Cucu dari pasangan Aloyisius de Rozari dan Esther de Rozari ini juga memberikan perhatian serius terhadap anak sekolah di beberapa sekolah di Wae Rana Manggarai Timur dengan membagikan alat tulis serta melakukan trauma healing pasca gempa
“Saya juga sudah tolong 470 orang anak sekolah, TK, SD, SMP dan SMA. Di TK saya beri mereka mainan, permen, coklat, wafer. Di SD juga sama. Di SMP saya kasi beras karena Suster di situ minta beras. Untuk SMA aku kasi 170 buku, bolpoin, pensil dan tas. Aku juga tolong trauma healing untuk anak sekolah” ujarnya
Di Manggarai Timur, bantuan itu juga diberikan kepada keluarga terdampak di beberapa tempat lain seperti di Watu Nggong, Kisol, Rana Meti, Wae Lengga dan lainnya
Di kabupaten Manggarai disalurkan ke beberapa titik. Beberapa di antaranya di Poco, Watu Alo, Liang Bua, Welong kecamatan Wae RIi
Bantuan yang Ia berikan itu senilai 120 juta rupiah khusus untuk pengadaan barang
Di beberapa titik pembagian bantuan tersebut Sarah didampingi ketua Yayasan Indonesia Timur, Adrianus Patma bersama sejumlah tim lain
Meski melewati jalan yang jelek namun Sarah mengaku sangat menikmati aksi kemanusiaannya itu dan menyebutnya ‘pulang kampung’
Warga menyambut bahagia dan antusias atas kedatangan Sarah sembari memberikan pelukan hangat
Sarah yang juga merasa bagian dari keluarga Flores tidak enggan memeluk mereka sambil tersenyum bahagia menggambarkan dukungan yang menguatkan hati para korban gempa Flores itu
Pulang kampung ini selalu Ia impikan dan selalu Ia sampaikan kepada keluarga dan teman temannya di Belanda
Sarah menyebut Flores adalah tempat Ia berasal karena itu datang ke Flores baginya adalah pulang kampung, bukan Belanda

”Di Belanda aku bilang terus, aku rindu pulang. I want to go back home. Aku bilang Flores itu pulang saya, di Belanda itu bukan pulang saya. Pulang saya itu di sini di Flores” ungkap Sarah dengan mata berkaca kaca
Ia mengaku bangga dapat pulang ke Flores, tanah leluhurnya dan mengaku telah 8 kali datang ke Flores
“I am verry happy to be back. Saya sudah 8 kali pulang kampung ke Flores” ujar wanita muda bertubuh tinggi langsing ini













