Pabrik Pengolahan Umbi Porang Di Reo Kabupaten Manggarai NTT Beroperasi, Pemilik Pastikan Aman 

Pabrik Pengolahan Umbi Porang Di Sangari Kelurahan Wangkung, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai, NTT

MANGGARAI NTT, Pelita.co- Pabrik pengolahan umbi Porang di Sangari kelurahan wangkung kecamatan Reok kabupaten Manggarai provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) milik PT. Agro Porang Nusantara telah beroperasi sejak beberapa waktu lalu setelah mengantongi ijin operasional dari pemerintah daerah setempat

Puluhan orang pria dan wanita yang didominasi warga Sangari dipekerjakan dalam pabrik tersebut

Para karyawan tampak sibuk bekerja saat media ini memantau langsung aktivitas di dalam gedung pabrik yang berada tidak jauh dari jalan Reo – Kedindi itu pada Kamis 23 April 2026

Advertisement

Tidak ada pakaian khusus atau alat pelindung diri (APD) yang mereka gunakan selain masker penutup hidung dan mulut. Meski begitu tidak semua karyawan menggunakan masker tersebut dan lebih memilih tanpa menggunakan masker

Namun meski tanpa menggunakan masker, mereka terlihat santai dan sedikitpun tak terlihat ekspresi wajah mereka yang menggambarkan adanya bau tak sedap di dalam gedung pabrik tersebut

Media ini berkesempatan melihat langsung seluruh area dalam gedung pabrik tersebut bahkan hingga ke tempat penampungan limbah, ditemani salah satu staf, Koswaldus Huwa

Baca Juga: Pangdam IX Udayana Resmikan Jembatan Garuda Di ReoK, Bupati Manggarai NTT Sampaikan apresiasi

Tidak hanya itu media ini juga menyaksikan langsung tahapan proses pengolahan umbi Porang tersebut mulai dari proses pembersihan umbi hingga proses akhir berbentuk irisan tipis seperti kripik kering yang langsung dimasukan ke dalam karung

Tidak ada bau belerang, tidak ada bau limbah yang tercium baik di luar maupun di dalam gedung pabrik

Dari luar area pabrik tidak terlihat asap hitam yang keluar dari cerobong mesin pembakaran

Bunyi mesin pun tidak begitu menimbulkan kebisingan di luar area pabrik, bahkan di dalam gedung pabrik pun bunyi mesin tidak sampai mengganggu suara komunikasi langsung

Di dalam gedung pabrik tampak begitu banyak tumpukan umbi Porang terbungkus karung yang tertata rapi

Selain tumpukan umbi Porang, tampak juga tumpukan karung lainnya yang berisi cangkang kemiri yang merupakan bahan utama pembakaran pada mesin pengering

Baca Juga: Puluhan Tahun Tempuh Jarak 500 Meter Untuk Dapatkan Air Bersih, Warga Klumpang Desa Kajong Manggarai Minta Perhatian Pemerintah 

Pemilik pabrik, Lisa Tan memastikan keberadaan pabrik pengolahan Porang tersebut aman dan tidak berdampak buruk terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat

Pendirian dan pengoperasian pabrik tersebut menurutnya telah melalui mekanisme sesuai aturan standar pabrik pengolahan porang yang juga selalu dalam pengawasan pemerintah

”Tidak ada yang namanya berbahaya. Pabrik ini dibangun sesuai standar aturan pembangunan pabrik pengolahan umbi Porang dan kami sudah pastikan dengan standar lingkungan hidup, dengan bekerja sama dengan semua pengawas dinas-dinas di sini, itu tidak akan ada yang namanya berbahaya” ujar Lisa Tan

Limbah seperti kulit Porang kata Lisa akan dilebur dengan EM4 (Effective Microorganisms 4) yang bermanfaat untuk mempercepat fermentasi atau pengomposan sehingga tidak menimbulkan bau, bahkan hasil fermentasi itu justru bisa digunakan untuk menyuburkan tanah

Larutan EM4 aman, ramah lingkungan, dan dapat digunakan di pertanian, peternakan, maupun perikanan, tidak berbahaya

Ia bahkan mencontohkan pabrik Porang milik keluarganya di Jawa yang dibangun berdampingan dengan permukiman warga dan sama sekali tidak ada dampak buruk, baik terhadap lingkungan maupun kesehatan masyarakat sekitar

Baca Juga: Maju Di Pilkades Cumbi, Mikael Urus Bawa Visi Pembangunan, Kesejahteraan Hingga Perdamaian Di Tengah Masyarakat

Namun bedanya, kulit Porang di pada pabrik pengolahan di Jawa dijual dan dibeli oleh pabrik lem, sementara di Manggarai seperti di Reo kulit umbi Porang tidak bisa diperjual belikan karena tidak ada pabrik lem

Selain itu Lisa Tan mengatakan bahwa bahan utama pembakaran pada mesin pengering menggunakan cangkang kemiri, bukan belerang. Meski begitu Ia menyebut ada penggunaan belerang namun hanya sangat sedikit

Penggunaan belerang itu tambahnya diperbolehkan dan sudah biasa digunakan dalam pabrik pengolahan porang hanya untuk dan meningkatkan kualitas produk

”Itu tidak masalah, tidak berbahaya. Belerang itu sudah biasa digunakan di pabrik Porang seperti di Jawa, jumlahnya sangat sedikit untuk kualitas dan warna saja” ungkap Lisa Tan

Ia bahkan menyebut makanan kesukaan Presiden RI, Prabowo Subianto adalah nasi dari beras Porang, sebagaimana disampaikan Wapres Gibran dalam wawancara dengan Najwa Sihab di salah satu televisi nasional

Lisa Tan bahkan membandingkan pabrik pengolahan umbi Porang di Jawa yang menggunakan bahan bakar batubara yang menghasilkan asap hitam pekat meski berada di sekitar permukiman warga

Baca Juga: Pemerintah Dan DPRD Kabupaten Manggarai Sepakati Dua Ranperda Menjadi Perda

Di sisi lain Lisa Tan mengungkapkan terkait upah karyawan

Ia mengatakan bahwa karyawannya digaji sesuai Upah Minimum Propinsi (UMP). Selain gaji pokok upah lembur serta bonus mingguan bagi karyawan yang aktif masuk kerja setiap hari

”Kita pabrik resmi jadi kita beri gaji karyawan sesuai UMP, yang kerja lembur berarti ada tambahan upah lembur dan juga ada bonus mingguan bagi karyawan yang masuk kerja setiap hari” ungkap Lisa

Lisa menyebut pabrik miliknya itu bukanlah satu satunya di NTT bahkan Manggarai

Ia mengatakan pabrik ya hanya melakukan menghasilkan produk setengah jadi untuk diekspor ke Cina. Dengan demikian standar kualitasnya adalah standar internasional sehingga kualitas produksinya betul betul dijaga

Sala seorang staf, Koswaldus Huwa saat menemani media ini memantau area pabrik itu menunjukan beberapa bagian mulai dari pembakaran, alur produksi hingga tempat penampungan limbah

Baca Juga: Hery Nabit Berikan Keterangan Di Hadapan Penyelidik, Tegaskan Tidak Ada Aliran Dana Dari JH

Kepada media ini Waldus mengatakan bahwa mesin produksi dalam pabrik itu menggunakan tenaga listrik sehingga bunyi mesin tidak seperti mesin yang menggunakan bahan bakar solar

Sementara untuk pengeringan tambahnya masih menggunakan satu tungku saja dengan dua blower

Sama seperti Bos nya, Lisa Tan, Oswaldus mengatakan bahan bakar untuk pengeringan menggunakan cangkang kemiri

”Sementara ini hanya satu tungku saja yang beroperasi, blower nya ada dua dan bahan bakarnya menggunakan cangkang kemiri itu untuk proses pengeringan, bukan belerang” ujar Waldus

Ia juga menunjukkan tempat penampungan limbah yang berada dekat dengan area pembersihan umbi Porang. Oswaldus juga menunjukkan dua unit mesin pompa dari dua sumur di dekat bak penampung limbah tersebut sekaligus memastikan pabrik tersebut tidak menggunakan air PAM

Tempat penampungan limbah itu tambahnya akan selalu dikelola dan dibersihkan

Baca Juga: Pemkab Manggarai Genjot Sektor Pertanian, Puluhan Alsintan Dibagikan Ke Kontak Tani

Oswaldus juga memastikan pabrik tersebut aman dan tidak berdampak buruk bagi lingkungan dan kesehatan

Sementara itu seorang warga sekitar lokasi pabrik yang enggan menyebutkan namanya mengaku tidak terganggu dengan keberadaan pabrik pengolahan umbi Porang tersebut

Ia mengaku bunyi mesin dari dalam gedung pabrik tidak sampai mengganggu bahkan Ia juga mengaku tidak pernah mencium bau belerang selama pabrik tersebut beroperasi

Sumber tersebut juga mengakui proses pembangunan pabrik tersebut sebelumnya telah didiskusikan dengan warga sekitar yang melibatkan para tokoh dan tua adat setempat tanpa ada penolakan

Keberadaan pabrik tersebut justru sangat membantu warga terutama yang mengambil bagian sebagai karyawan

Bahkan Nuel, salah satu karyawan berkebutuhan khusus (kaki sebelah terpotong) yang berhasil diwawancara media ini mengaku sangat senang karena dengan keterbatasannya itu Ia tetap diterima bekerja di perusahaan tersebut

Baca Juga: MGS, Mantan Guru SMPN 5 Ruteng Kabupaten Manggarai NTT Dilaporkan Ke Polisi Atas Dugaan Pencemaran Nama Baik

“Tidak, saya tidak mengalami kesulitan, aman aman saja. Saya justru senang karena saya diterima kerja di sini” ungkap Nuel

Di tengah keterbatasannya itu Noel tetap semangat menjalankan pekerjaannya seperti karyawan lainnya

Media ini juga berkesempatan mewawancarai Marius, seorang warga Nggalak yang saat itu mengantar umbi Porang untuk dijual ke pabrik tersebut

Marius mengaku senang dan merasa terbantu dengan keberadaan pabrik tersebut karena lebih dekat dan harganya juga lebih bagus

”Saya dari nggalak, saya ke sini antar Porang mau dijual ke sini. Keberadaan pabrik pengolahan Porang ini sangat membantu kami karena lebih dekat dan biayanya lebih murah dan harganya juga lebih bagus” ungkap Marius

Marius mengaku selama ini Ia menjalankan bisnis jual beli umbi Porang namun harus dijual ke ruteng yang jangkauannya cukup jauh dan memakan biaya lebih mahal

Baca Juga: DPD PAN Kabupaten Manggarai Gelar Muscab, Pengurus DPC Baru Diingatkan Untuk Satukan Tekad Besarkan Partai

Keberadaan pabrik pengolahan Porang di kelurahan Wangkung kecamatan Reok ini tidak hanya menguntungkan petani dan pelaku bisnis jual beli Porang terapi juga berdampak bagi petani dan pelaku bisnis jual beli kemiri

Ini juga akan membangkitkan semangat masyarakat untuk menanam Porang yang selama ini kesulitan pasar sehingga berdampak pada rendahnya harga jual Porang

Di samping itu, keberadaan pabrik ini diharapkan dapat mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD) serta menekan angka pengangguran di kabupaten Manggarai

 

Advertisement