MANGGARAI BARAT NTT, Pelita.co- Guru besar Universitas Bina Nusantara (BINUS) Jakarta, Prof. Dr. Arta Moro Sundjaja bersama sejumlah orang lainnya menyambangi paroki Tri Tunggal Maha Kudus Ranggu keuskupan Labuan Bajo kabupaten Manggarai Barat provinsi Nusa Tenggara Timur pada Kamis 16 April 2026
Profesor Arta bersama rombongannya diterima langsung Pastor paroki Ranggu, Romo Laurentius Saya dan Pastor Vikaris Parokial, Pater Rafael S. Lepen
Turut hadir dalam kesempatan itu wakil ketua DPP paroki Ranggu, Arontinus Hanggur, Komisi PSE paroki Ranggu, Patrisius Sudarmo, Komisi PSE Paroki Wajur, Fian Piposudarlin
Kedatangan Guru besar ke Paroki Ranggu ini tidak dalam rangka urusan akademik dan keimanan namun lebih pada upaya pemberdayaan ekonomi umat dari sektor pemanfaatan produk lokal
Paroki Ranggu disambangi guru besar ini dalam kaitan peran aktif paroki Ranggu selama ini dalam mempromosikan gola rebok melalui berbagai even lokal seperti mengikuti pameran pada festival Golo Koe Labuan Bajo dan even lainnya
Dalam kunjungan itu, Prof Arta diperlihatkan cara pembuatan gula rebok yang didemonstrasikan oleh salah satu pengrajin gola rebok asal Ranggu, Saverinus Hapong
Hal ini sekaligus menguatkan rasa ketertarikan sang Profesor terhadap produk lokal dari bahan alami tersebut
Alhasil beberapa gola rebok kemasan dari paroki Ranggu ini pun dibawa pulang Prof Arta ke Jakarta
Bisa jadi ini adalah sinyal pintu masuk gola rebok ”go nasional”
Wakil ketua DPP paroki Ranggu yang berhasil dihubungi media ini, Arontinus Hanggur mengonfirmasi perihal kedatangan Prof Arta bersama timnya itu
Melalui pesan WhatsApp pada Jumat 18 April 2026 Ia mengatakan bahwa kedatangan guru besar Universitas BINUS itu untuk mendukung peningkatan produktivitas gula merah yang langsung diolah dalam bentuk serbuk atau dalam bahasa setempat menyebutnya “gola rebok”
“Guru besar dari Universitas Bina Nusantara itu kemarin sempat melihat cara pembuatan gula rebok. Karena tidak bisa ke lokasi pembuatan milik masyarakat, maka kami mendatangkan salah satu pembuat gola rebok dari kampung Ranggu bernama Rinus untuk mendemonstrasikan cara pembuatannya” ungkap Guru SMA Sanctisima Trinitas Ranggu kecamatan Kuwus Barat tersebut
Ia juga mengatakan bahwa kunjungan itu sekaligus terkait rencana kerja sama pemasaran dan pemberdayaan para pengrajin gola rebok
Namun ada beberapa masukan dari prof Arta terkait logo dan histori singkat gola rebok yang mesti dicantumkan dalam kemasannya
Guru Besar Universitas Binus itu tambahnya berkomitmen memberdayakan para pengrajin gola rebok melalui Paroki Ranggu dengan harapan minat masyarakat makin tinggi, jumlah produksinya pun meningkat
Lebih lanjut Arontinus menjelaskan bahwa upaya peningkatan ekonomi umat melalui produktivitas gola rebok adalah program sosial paroki
“Ini merupakan bagian dari program kerja Pemberdayaan Sosial Ekonomi (PSE) Paroki Ranggu” ujarnya
Menindak lanjuti rencana kerja sama itu tambahnya, paroki Ranggu berencana akan mendata para pengrajin gola rebok dengan terlebih dahulu fokus pada beberapa kampung di wilayah paroki Ranggu
Hal itu untuk memastikan kontinuitas produk Gola rebok terjamin
Rencana kerjasama Universitas BINUS dengan Paroki Ranggu ini membawa harapan dan semangat baru di tengah semakin menurunnya minat masyarakat dalam usaha produksi gula merah
Gula merah merupakan salah satu produk unggulan masyarakat Manggarai terutama di wilayah Kuwus, Kuwus Barat, Pacar, Ndoso dan Welak yang diwariskan secara turun temurun
Bahkan masyarakat di wilayah itu menjadikan kegiatan produksi gula merah olahan air nira (minse) dari pohon aren itu sebagai profesi yang oleh masyarakat setempat menyebutnya “ata pante”
Di samping itu pasarannya pun semakin sulit akibat pasokan gula pasir hingga ke kampung kampung
Beberapa tahun belakangan masyarakat mengalihkan manfaat nira dari pohon aren ini bukan lagi gula merah tetapi menjadi ” sopi” yang dijadikan sebagai minuman keras sekaligus simbol budaya dalam tradisi Manggarai
Produktivitas sopi kemudian banyak diminati masyarakat bahkan oleh kalangan anak muda karena proses pembuatannya dinilai mudah dan tidak memakan waktu dan tenaga seperti pembuatan gula merah
Di sisi lain pemasaran sopi ini tidaklah sulit bahkan hingga ke luar daerah
Meski demikian masih ada juga yang tetap memproduksi gula merah walaupun jumlahnya sangat sedikit
Dalam jumlah yang sedikit itu, Pengurus Paroki Ranggu justru gencar mempromosikan gula merah dalam bentuk gola rebok
Gola Rebok ini dikemas dalam beberapa ukuran tertentu dan mempromosikannya kepada masyarakat umum melalui berbagai even lokal di Labuan Bajo
Gola Rebok Kemasan ini menjadi produk yang banyak diminati dan dikunjungi dalam setiap pameran seperti Festival Golo Koe Labuan Bajo
Terbaru, Komisi Pemberdayaan Sosial Ekonomi (PSE) Paroki Ranggu, Patrisius Sudarmo mengikuti kegiatan Business Plan bertema ”Pemberdayaan Ekonomi Umat Dan Dan Tata Kelola Keuangan Paroki” di Labuan Bajo selama dua hari yaitu 13 dan 14 April 2024
Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Keuskupan Labuan Bajo bekerja sama dengan Universitas BINUS Jakarta yang dihadiri oleh Profesor Arta bersama tim nya
Pesona Gola rebok memantik perhatian sang profesor hingga memutuskan mendatangi paroki Ranggu, tempat gola rebok kemasan itu berasal
