
JAKARTA, Pelita.co — Fenomena produk berlabel zero sugar atau bebas gula kini telah menjadi gaya hidup masyarakat urban, terutama kalangan muda yang gencar memantau asupan kalori. Namun, tren hidup sehat ini baru saja dikejutkan oleh riuh media sosial terkait dugaan ketidaksesuaian kandungan pemanis pada merek produk Beeru.
Sorotan ini bermula dari unggahan akun pengamat produk @dokterdetektifreal pada Rabu, 28 Oktober 2026. Berdasarkan uji laboratorium mandiri, muncul dugaan bahwa kandungan sukralosa dan neotame pada produk tersebut tidak sinkron dengan klaim pada label gizi.
Pihak Beeru Indonesia sendiri telah memberikan klarifikasi, menyatakan permohonan maaf, serta tengah berkoordinasi dengan mitra manufaktur yang menangani proses produksi dan peracikan bahan baku.
Terlepas dari dinamika kasus tersebut, polemik ini membuka kotak Pandora yang lebih besar: Seberapa jauh kita benar-benar memahami apa yang masuk ke dalam tubuh kita melalui label “pemanis pengganti”?
Ketika “Tanpa Gula” Bukan Berarti Tanpa Risiko
Bagi sebagian besar dari kita, memilih minuman atau makanan ringan berlabel bebas gula dianggap sebagai jalan pintas paling aman untuk menjaga berat badan atau menghindari risiko diabetes. Padahal, peta persaingan pemanis buatan jauh lebih kompleks dari sekadar angka kalori nol.
Di satu sisi, ada kelompok pemanis sintetis berintensitas tinggi seperti sukralosa dan neotame. Di sisi lain, terdapat alternatif alami seperti glikosida steviol (ekstrak daun Stevia). Ketiganya memiliki karakteristik, tingkat kemanisan, dan dampak metabolik yang sangat jauh berbeda.
Baca Juga: Teken Keputusan Bersama terkait Lokasi SPPG di Daerah, Mendagri Dukung Penuh Percepatan Program MBG
1. Sukralosa & Neotame: Sang “Raksasa Kemanisan” Sintetis
- Sukralosa: Diatur oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) sebagai aditif serbaguna yang tahan panas (cocok untuk produk panggang). Tingkat kemanisannya mencapai 600 kali lipat dari gula pasir biasa.
- Neotame: Merupakan versi yang jauh lebih ekstrem dengan tingkat kemanisan 7.000 hingga 13.000 kali lipat dibanding gula pasir.
Secara regulasi keamanan, FDA dan Otoritas Keamanan Makanan Eropa (EFSA) menyatakan bahwa sukralosa dan neotame aman dikonsumsi masyarakat umum selama berada dalam batas Asupan Harian yang Dapat Diterima (ADI). Sebagai ilustrasi, seseorang dengan berat badan 60 kg secara teoretis masih dianggap aman mengonsumsi hingga 23 paket produk pemanis berselancar dalam sehari.
Namun, di sinilah letak ironinya. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) justru mengeluarkan peringatan yang bertolak belakang. WHO secara tegas tidak merekomendasikan penggunaan pemanis non-gula (NSS) untuk mengontrol berat badan atau mencegah penyakit tidak menular (PTM).
Data menunjukkan bahwa penggunaan pemanis buatan jangka panjang tidak memberikan efek signifikan dalam membakar lemak tubuh. Sebaliknya, studi observasional kerap mengaitkan konsumsi jangka panjang dengan potensi peningkatan risiko diabetes tipe 2, gangguan kardiovaskular, hingga kematian.
2. Stevia Murni (Glikosida Steviol): Alternatif Alami yang Lebih Bersahabat?
Sebagai tandingan dari zat sintetis di atas, industri makanan mulai beralih ke glikosida steviol yang diekstrak dari tanaman Stevia rebaudiana.
Dengan tingkat kemanisan sekitar 200–400 kali lipat dari gula pasir, stevia dikategorikan sebagai pemanis alami yang tidak bergizi. Berdasarkan tinjauan toksikologi EFSA, zat ini terbukti tidak bersifat genotoksik, karsinogenik, atau mengganggu sistem reproduksi.
Lebih lanjut, uji klinis menunjukkan bahwa tubuh manusia tidak menghidrolisis glikosida steviol melalui enzim pencernaan bagian atas. Hal ini membuat stevia murni sejauh ini memiliki rekam jejak keamanan klinis yang lebih bersih tanpa efek samping metabolik yang mengkhawatirkan seperti sepupunya yang sintetis.
Baca Juga: Dapur Umum Haji Oji : Makan Bergizi Gratis di Desa Sodong Tigaraksa Diresmikan
Menavigasi Gaya Hidup Sehat di Tengah Hutan Label
Kasus yang menimpa Beeru hendaknya menjadi momentum bagi konsumen—khususnya generasi muda yang kritis—untuk lebih sceptical terhadap klaim pemasaran instan.
Penting untuk membedakan secara jeli antara pemanis sintetis (seperti sukralosa dan neotame) yang meski “lolos uji batas aman” oleh otoritas pangan, tetapi menyimpan catatan merah dari WHO terkait dampak jangka panjangnya, dengan opsi alami seperti ekstrak stevia murni.
Pesan redaksi untuk Anda: Jangan hanya terpaku pada label low-calorie atau zero sugar. Membaca daftar bahan (ingredient list) secara teliti dan memahami apa yang sebenarnya masuk ke dalam tubuh jauh lebih berharga daripada sekadar mengikuti tren diet yang instan tapi penuh misteri kimiawi.













