Pasien HD Meningkat, IKM 88,31: RSUD Tjokronegoro Genjot Transformasi Layanan

PURWOREJO, pelita.co — Enam tahun berdiri, RSUD RAA Tjokronegoro Purworejo terus memacu pembenahan layanan. Peningkatan pasien hemodialisa (HD), tuntutan percepatan pelayanan obat, hingga target kenaikan Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) menjadi perhatian dalam Forum Konsultasi Publik (FKP), Rabu (30/9/2026).

Forum yang digelar di aula RSUD Tjokronegoro tersebut mempertemukan jajaran manajemen rumah sakit dengan berbagai unsur, mulai dari DPRD, Pemkab Purworejo, tenaga kesehatan, akademisi, Organda, komunitas hingga LSM.

Direktur RSUD RAA Tjokronegoro, dr. Nunik Sulistyaningsih.

Direktur RSUD RAA Tjokronegoro, dr. Nunik Sulistyaningsih, mengungkapkan rumah sakit yang genap berusia enam tahun pada 1 September 2026 itu tengah memperkuat transformasi pelayanan.

“Transformasi enam tahun RSUD Tjokronegoro menguatkan mutu, menghadirkan kepercayaan,” kata dr. Nunik.

Salah satu indikator yang menjadi perhatian adalah hasil survei IKM. Saat ini nilainya mencapai 88,31, dengan aspek kewajaran biaya menjadi salah satu yang memperoleh penilaian tertinggi.

Manajemen tidak berhenti pada capaian tersebut. Sebagai rumah sakit kelas C, RSUD Tjokronegoro menargetkan nilai IKM meningkat menjadi 93 pada tahun depan.

Baca Juga: RSUD Tjokronegoro Ukir Prestasi Nasional, Raih Juara II FKRTL Berkomitmen BPJS Kesehatan

Perubahan standar pelayanan publik tahun ini difokuskan pada sejumlah layanan, antara lain rawat jalan, farmasi dan hemodialisa.

Khusus layanan HD, jumlah pasien disebut terus mengalami peningkatan. Bahkan, layanan cuci darah kini berlangsung setiap hari.

Perkembangan tersebut menjadi salah satu bagian dari transformasi layanan RSUD Tjokronegoro dalam menjawab kebutuhan kesehatan masyarakat.

Selain HD, layanan rawat jalan juga terus dikembangkan. Ke depan, rumah sakit menyiapkan penguatan layanan neurologi serta konsultasi gigi.

RSUD Tjokronegoro juga memiliki layanan unggulan bedah minimal invasif, yang disebut menjadi satu-satunya layanan tersebut di Kabupaten Purworejo.

Persoalan waktu tunggu obat menjadi salah satu perhatian dalam pembenahan pelayanan.

Baca Juga: Dekatkan Layanan Kesehatan, RSUD Tjokronegoro Hadirkan Dokter Spesialis Keliling di Grabag

Kini, proses pelayanan farmasi rawat jalan dan IGD mulai terintegrasi dengan Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIM RS).

Setelah dokter penanggung jawab pelayanan melakukan entry e-Resep, nomor antrean pelayanan farmasi diterbitkan secara otomatis melalui sistem.

Perubahan ini menggantikan mekanisme sebelumnya, ketika pasien atau keluarga harus menuju depo farmasi dan menyerahkan checklist bukti pelayanan kepada petugas.

Estimasi waktu penyelesaian obat juga dapat dipantau melalui telepon seluler.

Bahkan, untuk meningkatkan efisiensi waktu, rumah sakit menyiapkan layanan pengantaran obat melalui pos.

Keterbukaan terhadap kritik juga menjadi bagian dari evaluasi pelayanan.

Selama enam tahun, RSUD Tjokronegoro mencatat sebanyak 66 pengaduan masyarakat. Sementara sejak Januari hingga September 2026 terdapat 11 aduan.

WhatsApp menjadi salah satu kanal yang paling banyak digunakan masyarakat. Aduan terbanyak berkaitan dengan prosedur pelayanan.

Manajemen menyatakan pengaduan tersebut menjadi bahan evaluasi untuk melakukan perbaikan.

Sejumlah pembenahan yang telah dilakukan dari hasil FKP tahun sebelumnya antara lain peningkatan fasilitas parkir, rencana pemasangan atap parkir sepeda motor, perbaikan marka dan penerangan jalan, penambahan kursi ruang tunggu serta pembaruan website rumah sakit.

Kebutuhan masyarakat terhadap ruang perawatan juga ikut memengaruhi kebijakan manajemen.

Dari pemetaan kebutuhan, permintaan terbesar berada pada ruang perawatan kelas 1 dan kelas 3. Karena itu, ruang VVIP dialihkan menjadi ruang kelas 3 agar lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Untuk tahun mendatang, manajemen menetapkan lima prioritas perbaikan, yakni peningkatan mutu layanan secara berkelanjutan, efisiensi waktu tunggu obat rawat jalan, pemeliharaan ruang rawat jalan dan rawat inap, peningkatan sarana-prasarana berbasis kompetensi, serta edukasi pasien dengan mengedepankan prinsip senyum dan sapa.

Sementara itu, Ketua Komisi IV DPRD Purworejo KH Ahmad Tawabi memberikan pesan khusus kepada jajaran direksi RSUD Tjokronegoro.

Menurutnya, sedikitnya pasien tidak semestinya dipandang sebagai persoalan. Justru kondisi tersebut dapat dimaknai sebagai tanda bahwa masyarakat dalam keadaan sehat.

“Kalau jarang pasien jangan mengeluh, malah bersyukur karena masyarakat Purworejo sehat,” ujarnya.

Namun, di sisi lain, Ahmad menekankan bahwa pelayanan rumah sakit tetap mempunyai peran penting dalam proses kesembuhan masyarakat.

Karena itu, peningkatan kualitas pelayanan harus terus dilakukan seiring berkembangnya kebutuhan masyarakat.

FKP pun berlangsung dengan berbagai masukan, kritik dan saran dari peserta. Bagi manajemen RSUD Tjokronegoro, masukan tersebut menjadi bahan penting untuk memperbaiki sekaligus mengembangkan layanan.

Kepala Bagian Organisasi Setda Purworejo Sigit Kurniawan Saputro dan Plt Kepala Dinas Kesehatan dr. Budi Susanti turut memberikan apresiasi atas pelaksanaan FKP.

Keduanya berharap forum tersebut tidak berhenti sebagai agenda tahunan, tetapi menjadi bagian dari proses evaluasi berkelanjutan sehingga RSUD Tjokronegoro semakin berkembang dan mampu menghadirkan pelayanan kesehatan yang semakin baik bagi masyarakat Purworejo.