
BANTEN, Pelita.co – Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PP IPM) melalui Bidang Pengarusutamaan Gender (PUG) menggelar Women Empowerment Camp (WEC) di Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Provinsi Banten, Jumat (6/11/2026). Kegiatan selama tiga hari ini mengangkat dua isu utama, yakni sunat perempuan dan pernikahan dini.
Ketua Umum PW IPM Banten, Nur Ida Ersafabanyo, mengatakan pengangkatan kedua isu tersebut merupakan bentuk perhatian terhadap persoalan perempuan yang masih menjadi tantangan di Provinsi Banten. Melalui kegiatan ini diharapkan terbangun ruang edukasi dan kolaborasi lintas pihak.
Ia menekankan pentingnya membangun sinergi dengan Dinas Kesehatan Provinsi Banten agar upaya yang dilakukan tidak berhenti pada kegiatan seremonial.
“Harapannya, melalui program ini dapat terbangun sinergitas dengan Dinas Kesehatan Banten. Semoga pelaksanaan kali ini dapat memberikan ruang atau sinergi untuk dampak-dampak berikutnya,” ujar Nur Ida.
Bangun Keberanian dan Gerakan Perubahan
Project Manager VOICE, Fajry Annur, mengajak peserta WEC untuk membangun keberanian, memperkuat kapasitas diri, serta mengambil peran mendorong perubahan sosial, khususnya terkait persoalan perempuan dan anak.
Baca Juga: Wabup Minta Agar Remaja Jaga Pergaulan Agar Terhindar Dari Pernikahan Dini
“Hari ini kita belajar agar mampu menguatkan, hari ini kita membangun keberanian. Masa depan anak tidak dapat dihentikan dengan pernikahan dini,” tuturnya.
Fajry menegaskan perubahan tidak dapat diwujudkan hanya melalui satu kegiatan. Dibutuhkan proses pembelajaran, pelatihan, dan penguatan kapasitas secara berkelanjutan.
“Bawalah visi dan misi dari kegiatan ini, supaya kita dapat membangun Indonesia ramah anak dan perempuan. Semoga ini menjadi langkah awal untuk menghentikan pernikahan dini dan sunat anak di Indonesia,” tambahnya.
PUG Harus Jadi Ikhtiar Nyata
Ketua Umum PP IPM, Dani Rahmat Muharram, menegaskan pengarusutamaan gender (PUG) harus menjadi gerakan nyata organisasi dalam memperjuangkan keadilan dan kesetaraan gender, bukan sekadar slogan.
Menurutnya, PUG adalah ikhtiar ideologis untuk menghapus berbagai bentuk penindasan, marginalisasi, dan pembatasan potensi manusia atas dasar jenis kelamin. Peradaban masa depan tidak akan dapat dibangun secara utuh apabila masih terdapat ketimpangan gender.
Baca Juga: Hadapi Pilkades 2027, Pemkab Purworejo Matangkan Persiapan di 340 Desa
Ia juga menyoroti masih adanya kader perempuan yang diragukan kapasitasnya serta belum memperoleh ruang setara dalam kepemimpinan organisasi.
“Saya tidak ingin melihat ada satu pun kader perempuan IPM yang merasa kecil hati, merasa inferior, atau ragu mengambil posisi kepemimpinan strategis,” tegas Dani.
Dani juga mengingatkan tantangan perempuan di era digital, seperti kekerasan berbasis gender di ruang digital dan tekanan standar kecantikan. Ia mengapresiasi kepemimpinan Nur Ida sebagai gambaran perempuan memiliki kapasitas memimpin.
PWM Banten Apresiasi WEC
Sekretaris Umum Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Banten, Prof. Dr. Zakaria Syafei, http://M.Pd., mengapresiasi penyelenggaraan WEC sebagai langkah penting meningkatkan kesadaran dan kapasitas perempuan untuk mengambil peran lebih luas di masyarakat.
Ia mengingatkan dalam sejarah masyarakat jahiliah, perempuan kerap mengalami ketidakadilan dan ditempatkan pada posisi tidak setara, termasuk dalam hak memperoleh warisan. Pandangan yang merendahkan perempuan harus terus diperbaiki melalui pendidikan dan pemberdayaan.
Pendidikan Harus Jadi Ruang Aman
Kepala Subbagian Umum BPMP Banten, Bonny Hanafi Da Costa, menegaskan pentingnya menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, inklusif, dan berpihak pada pemenuhan hak anak.
Menurutnya, WEC bukan sekadar pertemuan atau pelatihan, melainkan ruang menumbuhkan kepemimpinan pelajar, keberanian bersuara, kepedulian sosial, serta kesadaran terhadap pemenuhan hak perempuan dan anak.
“Setiap anak, baik perempuan maupun laki-laki, berhak tumbuh, aman, belajar setinggi mungkin, mengembangkan bakatnya, serta menentukan masa depan dengan pengetahuan dan kesiapan yang memadai,” ungkapnya.
Bonny menyampaikan tiga pesan kepada peserta. Pertama, menjadi pelajar yang berani belajar dan bertanya dari sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. Kedua, menjadi sahabat yang peduli dan mampu memberikan dukungan kepada teman yang menghadapi tekanan. Ketiga, menjadi penggerak perubahan dengan membawa hasil pembelajaran ke sekolah, organisasi, keluarga, dan masyarakat.













