Kritik Yudi Latif dan Hendrajit Jadi Cermin Muktamar NU, Andi Najmi: Saatnya Kembalikan Independensi Jam’iyah

JAKARTA – Menjelang penyelenggaraan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), mantan Ketua Lembaga Penyuluhan dan Bantuan Hukum (LPBH) PBNU periode 2010–2015, Andi Najmi Fuaidi, mengajak seluruh warga Nahdliyin menjadikan kritik konstruktif dari dua pemikir bangsa, Yudi Latif dan Hendrajit, sebagai bahan refleksi untuk memperkuat arah perjalanan organisasi.

Menurut Andi, dua tulisan berjudul Jalan Redup Agama: Catatan untuk Munas-Konbes NU karya Yudi Latif dan NU Nyata Tapi Tidak Aktual karya Hendrajit merupakan masukan yang bernilai tinggi bagi masa depan NU. Ia menilai kritik tersebut bukan bentuk serangan terhadap organisasi, melainkan wujud kepedulian agar NU tetap menjadi kekuatan moral bangsa.

“Saya menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Bung Yudi Latif dan Bung Hendrajit. Pandangan mereka sangat realistis dan patut dijadikan bahan kontemplasi bagi jajaran tanfidziyah maupun syuriyah PBNU,” ujar Andi.

Andi menilai terdapat tiga pesan utama yang harus menjadi bahan evaluasi internal NU menjelang Muktamar.

Advertisement

Pertama, menjaga jarak moral dengan kekuasaan. Mengutip pandangan Yudi Latif, Andi mengingatkan bahwa kedekatan lembaga keagamaan dengan kekuasaan berpotensi mengurangi independensi organisasi apabila agama hanya dijadikan legitimasi politik atau simbol seremonial. NU, menurutnya, harus tetap menjalankan fungsi sebagai kekuatan moral yang berani mengoreksi penyimpangan, bukan sekadar membenarkan kebijakan penguasa.

Kedua, mengaktualisasikan tradisi, bukan sekadar melestarikannya. Ia sepakat dengan pandangan Hendrajit bahwa NU memiliki kekuatan besar secara kuantitas, namun harus lebih mampu menghadirkan tradisi keislaman sebagai solusi atas berbagai persoalan masyarakat modern, mulai dari tantangan era digital hingga krisis sosial dan budaya. Tradisi NU, kata Andi, harus terus direvitalisasi agar tetap relevan menjawab kebutuhan zaman.

Ketiga, mengatasi krisis imajinasi dan inspirasi dalam kepemimpinan organisasi. Menurut Andi, persoalan utama NU saat ini bukan terletak pada keterbatasan finansial maupun intelektual, melainkan pada minimnya visi dan keberanian membangun imajinasi masa depan. Tanpa hal tersebut, organisasi berisiko kehilangan arah dan jati dirinya.

Baca Juga: Mendagri Buka Festival Fulan Fehan 2026, Hadirkan Tarian Persahabatan Indonesia dan Timor-Leste

Dalam refleksinya, Andi juga mengutip pesan Abu Hamid al-Ghazali yang disampaikan kembali oleh Yudi Latif, yakni bahwa kerusakan masyarakat berawal dari rusaknya pemimpin, sementara rusaknya pemimpin bersumber dari rusaknya ulama yang terjebak pada kecintaan terhadap harta dan kedudukan. Pesan tersebut dinilai tetap relevan sebagai pengingat moral bagi seluruh elemen kepemimpinan umat.

Menghadapi Muktamar NU ke-35, Andi berharap forum permusyawaratan tertinggi organisasi tersebut tidak berhenti pada agenda politik dan seremonial semata. Menurutnya, Muktamar harus menjadi momentum mengembalikan independensi jam’iyah, menghidupkan kembali semangat amar makruf nahi mungkar, sekaligus merumuskan strategi kebudayaan agar tradisi NU tetap aktual dan kontekstual di tengah perubahan zaman.

“Mari kita jadikan kritik ini sebagai jamu yang pahit, tetapi menyehatkan. Kritik yang lahir dari rasa cinta akan selalu menjadi bekal terbaik untuk memperkuat NU menghadapi masa depan,” pungkas Andi.

Advertisement