Kepala Perpustakaan dan Arsip Ajak Pustakawan dan Pegiat Literasi Perangi Hoaks

Advertisement

PURWOREJO, pelita.co – Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Pusip) Kabupaten Purworejo, Stephanus Aan Isa Nugroho, SSTP., M.Si., menegaskan pentingnya peran pustakawan, pegiat literasi, serta penggiat media sosial dalam menangkal maraknya hoaks di masyarakat.

Hal itu disampaikan saat membuka Bimbingan Teknis (Bimtek) Literasi Informasi yang digelar di aula dengan diikuti lebih dari 50 peserta, Selasa (23/9/2025).

Kegiatan tersebut juga dihadiri sebagai nara sumber, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan sekaligus Plt Kepala Dinkominfostasandi Kabupaten Purworejo, Yudhie Agung Prihatno, S.STP., M.M., Kepala Program Studi Bisnis Digital Politeknik Sawunggalih Aji, Ahmad Syarif Mutsanna, serta Kepala Bidang Perpustakaan, Sigit Sudibyo, S.Sos.

Aan menyebut literasi informasi harus menjadi garda terdepan menghadapi konten menyesatkan seperti satir, plagiat, hingga berita palsu. “Kita perlu bersama-sama membangun semangat literasi agar masyarakat mendapat informasi yang benar, bukan yang menyesatkan,” ujarnya.

Advertisement

Ia menekankan dua tujuan utama kegiatan tersebut, yaitu memperkuat peran pustakawan dan tenaga pendidik dalam memberikan edukasi literasi informasi, serta mendorong penggiat media sosial menyebarkan konten positif dan dapat dipertanggungjawabkan.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Purworejo sekaligus Plt Kepala Dinkominfostasandi, Yudhie Agung Prihatno, S.STP., M.M., turut hadir sebagai narasumber. Ia menjelaskan perkembangan teknologi membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat, dari era pertanian, industri, komputer, hingga digital.

“Sekarang masyarakat cukup membuka gadget untuk mencari informasi. Arus informasi begitu deras, tapi harus diimbangi kemampuan literasi agar tidak sekadar jadi penonton,” katanya.

Yudhie menyebut, validasi sumber, memahami struktur hubungan, serta kecermatan dalam membaca informasi menjadi kunci dalam pengambilan keputusan yang tepat. “Berdasarkan data, penyebaran hoaks terbesar melalui media sosial sebesar 92 persen, kemudian aplikasi percakapan 62 persen. Sementara radio masih menjadi media yang paling valid,” jelasnya.

Ia juga menyampaikan lima langkah sederhana untuk mengenali hoaks, yakni mencermati judul provokatif, memeriksa alamat situs, mengecek fakta, memastikan keaslian foto, bergabung dalam grup anti-hoaks, serta melaporkan melalui layanan resmi seperti Komando Purworejo atau Lapor Bupati di nomor 0821 4027 3000

Sementara itu, Kepala Program Studi Bisnis Digital Politeknik Sawunggalih Aji, Ahmad Syarif Mutsanna, dalam paparan bertema “Mengembangkan Kompetensi Informasi di Era Digital” menegaskan hoaks, misinformasi, dan rendahnya literasi digital masih menjadi tantangan serius.

Menurutnya, guru membutuhkan materi pembelajaran mutakhir, pustakawan harus menguasai koleksi digital, dan pegiat literasi dituntut menghadirkan bacaan inklusif di komunitas. Ia juga memperkenalkan metode CRAAP Test dan SIFT sebagai cara mengevaluasi akurasi serta kredibilitas informasi.

“Informasi berkualitas adalah fondasi pembelajaran dan literasi. Semua pihak harus menjadi filter sekaligus fasilitator informasi bermanfaat,” tegasnya.

Advertisement