MANGGARAI NTT, Pelita.co- Dugaan penyelewengan Dana Desa (DD) hingga laporan fiktif diarahkan kepada kepala Desa Lolang, kecamatan Satar Mese, kabupaten Manggarai provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Marianus Pangar
Dugaan itu mencuat di kalangan masyarakat desa Lolang menyusul sejumlah pekerjaan fisik dan bantuan selama dua tahun anggaran (2024, 2025) yang tidak kunjung direalisasikan bahkan hingga 2026 ini
Masyarakat desa Lolang merasa aneh dan tak masuk akal sebab laporan pertanggungjawaban dua tahun anggaran itu justru berjalan mulus, berbanding terbalik dengan fakta lapangan yang berujung pada kekecewaan masyarakat
Hal ini menguatkan dugaan adanya penyelewengan dan laporan fiktif oleh kepala desa, Marianus Pangar
Tidak hanya itu, kebijakan lain juga ikut disoroti seperti penunjukan orang tua kandung kepala desa sebagai mitra pengadaan bibit kopi dan anakan pohon dalam program pemberdayaan
Sejumlah sumber yang meminta identitas mereka tidak disebutkan mengungkapkan kekecewaan mereka atas kinerja Marianus Pangar sebagai kepala desa mereka serta mempertanyakan ke mana anggaran yang sudah dialokasikan untuk sejumlah proyek fisik dan bantuan untuk masyarakat itu
“Kami sangat kecewa dengan kinerja kepala desa kami desa Lolang ini. Ada beberapa pekerjaan fisik dan juga bantuan tahun 2024 dan 2025 yang sampai sekarang juga belum dikerjakan, ke mana anggaran yang sudah dialokasikan itu. belum lagi orang tua kandung kepala desa ditunjuk menjadi mitra pengadaan bibit kopi dan anakan pohon selama beberapa tahun ini” ungkap salah satu sumber tersebut
Sumber lain menyebutkan bahwa pengelolaan DD desa Lolang selama kepemimpinan Marianus Pangar cenderung tertutup atau tidak transparan
”Pengelolaan Dana Desa selama kepala desa pak Marianus ini tertutup sekali” ungkap sumber tersebut
Sumber lain menyoroti lemahnya pengawasan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Lolang
Ia menilai BPD desa Lolang tidak berfungsi dan tidak mampu melaksanakan tugas sebagai pengawas pelaksanaan pembangunan desa. Bahkan secara tegas Ia menginginkan BPD Lolang dibubarkan saja
”Yang saya tidak masuk akal itu BPD. BPD desa Lolang ini tidak berfungsi, lemah. Mereka tidak bisa menjalankan tugas mereka dalam melakukan pengawasan terhadap pembangunan di desa ini. Karena itu menurut saya bubar saja BPD desa Lolang ini” ujar sumber tersebut
Sementara itu salah satu sumber lain secara rinci menyebut proyek fisik dan program bantuan desa Lolang tahun anggaran 2024 dan 2025 yang sampai saat ini belum direalisasi
Tahun anggaran 2025
1. Bantuan rumah tidak layak huni tahun anggaran 2025 senilai Rp 40 juta untuk 4 penerima dengan rincian Rp 10 juta per penerima, bantuan berupa material: sing, besi dan pasir
Namun bantuan tersebut tidak sesuai dengan nilai nominal yang dianggarkan sebab faktanya penerima hanya diberikan 2 ret pasir saja, itu pun barus direalisasi pada Februari 2026
Persoalan bantuan rumah tidak layak huni ini tidak cukup sampai di situ, satu dari 4 penerima diberikan dalam bentuk uang tunai namun belum diketahui nominal yang diterima
Di lain pihak, sumber tersebut mengatakan bahwa tidak ada bukti serah terima material yang ditandatangani penerima
2. Pekerjaan rabat di dusun Pela senilai 130 juta rupiah. Volume yang dikerjakan tidak sesuai perencaan
3. Pekerjaan rabat di rumah gendang Lolang dengan pagu anggaran Rp 150 juta. deker dan drainase belum juga dikerjakan hingga saat ini
4. Bantuan sing untuk 5 penerima dengan pagu Rp 40 juta. Hingga saat ini tidak direalisasi sementara anggaran sudah dicairkan pertengahan tahun anggaran 2025
5. Proyek air minum bersih tahun anggaran 2025 tidak dikerjakan sampai sekarang
6. Bantuan anak babi. Namun bantuan ini diberikan dalam bentuk uang tunai. Menurut masyarakat, dalam anggarannya sebesar 1.500 ribu rupiah per ekor per penerima namun faktanya masyarakat hanya diberikan uang dengan nominal bervariasi sekita 600 hingga 800 ribu rupiah
Tahun anggaran 2024
1. Bantuan WC sehat berupa material pasir, batu bata dan kloset.
Salah satu penerima bantuan mengaku belum selesai mengerjakan WC tersebut karena bantuan yang diberikan tidak sesuai kebutuhan untuk pembangunan 1 unit WC, di mana sejauh ini hanya batu bata sebanyak 200, sementara 10 sak dan 1 closet. Hal ini menurutnya berbeda dengan apa yang sebelumnya diberitahukan yakni besi beton, batu bata, sing, semen, pasir dan kloset dengan total nilai 10 juta rupiah
Bantuan ini diduga tidak melalui perencanaan yang matang sebab penerima mengaku tidak pernah ada pemberitahuan sebelumnya. Ia tiba tiba didatangi staf desa Lolang pada akhir tahun, sekitar tanggal 10 Desember 2025 memberitahukan perihal Ia termasuk salah satu penerima
Saat itu staf desa tersebut meminta calon penerima bantuan ini untuk menandatangani dokumen yang diduga seolah Ia telah menerima bantuan tersebut meski faktanya belum. Penerima tersebut sempat menolak menandatanganinya karena faktanya material tersebut belum Ia terima namun staf desa itu mengatakan bahwa uang tidak akan cair apabila dokumen tersebut tidak Ia tandatangani
”Waktu itu staf desa datang beritahu bahwa saya menerima bantuan WC dan Dia minta saya tandatangani salah salah satu dokumen, saya tolak karena bantuan itu belum ada tetapi Dia bilang, kalau tidak saya tandatangani berarti uang tidak bisa cair” ungkapnya
Beberapa hari kemudian material didrop tetapi hanya satu buah kloset, 200 batu bata dan 10 sak semen, sedangkan material lain seperti besi beton, sing, pasir tidak ada sampai saat ini
2. Bantuan pengadaan bangku Gereja Stasi Lolang namun tidak terealisasi meski anggaran sudah dialokasikan dan telah dicairkan
3. Pembangunan Balai desa Lolang ukuran 10 x 16 meter senilai 450 juta yang sampai sekarang belum juga tuntas dikerjakan seperti jendela, pintu hingga acian dan juga halaman luar
Masyarakat meminta bupati Manggarai untuk, Dinas PMD dan Inspektorat kabupaten Manggarai untuk segera mengambil langkah tegas terhadap kepala desa Lolang Marianus Pangar
Bahkan masyarakat mempertimbangkan untuk melapor Marianus Pangar ke Aparat Penegak Hukum (APH)
Hingga berita ini diterbitkan, kepala desa Lolang, Marianus Pangar belum memberikan klarifikasi
Media ini bersama beberapa wartawan media lain telah mendatangi kantor desa Lolang pada 13 Mei lalu namun Ia sedang tidak ada di kantornya. Belakangan diketahui Ia mengikuti rapat di kantor kecamatan Satar Mese
Upaya konfirmasi melalui sambungan telepon telah beberapa kali dilakukan namun Marianus Pangar tidak kunjung memberikan tanggapan meski sempat menyampaikan akan melakukan klarifikasi
Sama seperti Marianus, ketua BPD desa Lolang, Lodovitus Wangkur juga belum memberikan tanggapan meski di hari yang sama (13/05) media ini dan beberapa wartawan media lain juga pernah berupaya menemuinya di kantor desa Lolang untuk meminta tanggapan, namun saat itu Ia tidak sedang ada di kantor
Konfirmasi melalui telepon selulernya juga telah beberapa kali dilakukan namun belum berhasil