PURWOREJO,pelita.co, – Di balik gemerlap piala dan medali Lomba Kompetensi Siswa (LKS), tersimpan cerita panjang tentang perjuangan, kelelahan, dan harapan besar anak-anak SMK Kabupaten Purworejo.
Hal inilah yang menjadi perhatian utama Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMK Purworejo, Wahyono S.Pd., M.Pd.,saat memberikan arahan dan evaluasi pasca LKS tingkat kabupaten, di Auditorium SMKN 1 Purworejo, Kamis (15/1/2023).
Dengan nada penuh kepedulian, Wahyono mengingatkan bahwa kemenangan di tingkat kabupaten bukanlah garis akhir, melainkan awal perjalanan menuju panggung yang lebih besar: tingkat provinsi, nasional, bahkan internasional.
“Juara kabupaten ini baru langkah pertama. Anak-anak harus berani bermimpi lebih tinggi. Tapi mimpi itu harus disiapkan dengan kerja keras, pembinaan yang serius, dan pendampingan yang manusiawi,” ungkapnya.
LKS tingkat Provinsi Jawa Tengah sendiri dijadwalkan berlangsung pada 13–16 April di wilayah Banyumas, Cilacap, dan sekitarnya. Waktu jeda sekitar dua hingga tiga bulan menjadi masa krusial untuk memperbaiki kekurangan dan mengasah keunggulan para juara.
Tahun ini, LKS tingkat Kabupaten Purworejo mempertandingkan 20 mata lomba, sementara di tingkat provinsi terdapat 37 mata lomba dan 1 ekshibisi. Beberapa kompetensi keahlian bahkan langsung melaju ke tingkat provinsi karena belum dipertandingkan di kabupaten.
Yang membanggakan, prestasi tahun ini diraih secara merata oleh SMK negeri dan swasta. Bagi Wahyono, hal ini menjadi bukti bahwa pembinaan SMK di Purworejo mulai berjalan seimbang dan kolaboratif.
“Ini bukan soal sekolah negeri atau swasta. Ini soal bagaimana kita bersama-sama membesarkan anak-anak SMK Purworejo,” katanya.
Namun, Wahyono juga menyoroti sisi lain yang kerap luput dari perhatian: kesehatan dan mental peserta. Ia mengisahkan adanya peserta lomba yang jatuh sakit saat kompetisi karena kelelahan dan kurang istirahat akibat belajar hingga larut malam.
“Skill itu penting, tapi kesehatan jauh lebih penting. Jangan sampai anak-anak gugur bukan karena tidak mampu, tapi karena sakit,” pesannya kepada guru pendamping.
Ke depan, MKKS SMK Purworejo berencana memperkuat sinergi antara sekolah, guru pendamping, MKKS, dan dunia industri (DUDI). Pembekalan tidak hanya difokuskan pada teknis lomba, tetapi juga mental juara, karakter, disiplin, dan kesiapan fisik.
Dengan semangat kebersamaan dan pembinaan yang lebih manusiawi, Wahyono berharap Purworejo kembali mengukir prestasi emas seperti tahun-tahun sebelumnya.
“Anak-anak ini adalah masa depan. Tugas kita bukan hanya melatih mereka untuk menang lomba, tapi menyiapkan mereka menjadi pribadi tangguh,” pungkasnya.