
SUMUT, Pelita.co – Rangkaian bencana hidrologis berupa banjir bandang dan luapan sungai yang melanda sejumlah wilayah Sumatera pada tahun lalu menjadi pelajaran berharga bagi berbagai pihak. Mengantisipasi agar tragedi serupa tidak terulang seiring tingginya curah hujan di penghujung tahun, PT Perkebunan Nusantara IV (PTPN IV PalmCo) mengambil langkah mitigasi dini di sejumlah wilayah operasionalnya.
Salah satu upaya preventif tersebut direalisasikan melalui salah satu Regionalnya dengan mengerahkan unit ekskavator untuk menormalisasi aliran sungai dan drainase di Dusun VI, Desa Meranti Paham, Kecamatan Panai Hulu, Kabupaten Labuhan batu, Sumatera Utara. Pengerukan sedimen lumpur dan pembersihan tumpukan sampah ini dikebut sebagai langkah antisipatif sebelum intensitas hujan mencapai puncaknya.
Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, mengungkapkan bahwa inisiatif normalisasi ini merupakan bagian dari instruksi manajemen ke unit operasional untuk memperkuat kesiapsiagaan infrastruktur air sejak dari hulu.
“Bencana hidrologis di Sumatera dan Aceh tahun lalu memberikan pelajaran berharga bahwa fase tanggap darurat dan pemulihan memakan waktu serta sumber daya yang sangat masif. Oleh karena itu, tahun ini kami menginstruksikan seluruh unit untuk bergerak lebih awal membenahi drainase dan memetakan titik rawan krisis sebelum bencana itu sendiri terjadi,” ujar Jatmiko, Senin (26/10/2026).
Jatmiko memaparkan, pada saat rentetan bencana melanda tahun lalu, PTPN IV PalmCo turut turun langsung mulai dari fase evakuasi darurat hingga pemulihan pasca-bencana. Bantuan yang disalurkan difokuskan pada pemulihan infrastruktur dasar masyarakat, penyediaan air bersih, kebutuhan logistik dasar, hingga pembangunan hunian bagi masyarakat terdampak.
Dari pengalaman tersebut, perusahaan menilai bahwa tindakan preventif jauh lebih krusial. “Kita tidak ingin luapan air kembali memutus akses jalan warga dan melumpuhkan roda ekonomi daerah. Pencegahan melalui kolaborasi pembersihan parit dan sungai ini adalah ikhtiar bersama agar warga di sekitar area operasional tetap aman dalam beraktivitas,” tambahnya.
Di lapangan, pelaksanaan normalisasi jalur air ini melibatkan koordinasi teknis antara Kebun Meranti Paham dan Kebun Ajamu. Alat berat dikerahkan khusus untuk mengurai bottleneck atau titik-titik penyumbatan di persimpangan saluran air desa. Lokasi ini diketahui rawan meluap dan menggenangi jalan poros desa apabila debit air meningkat drastis akibat sampah ranting dan pendangkalan (sedimentasi).
Kepala Desa Meranti Paham, Sohadi, yang memantau langsung pengerjaan di lokasi, menyampaikan apresiasinya atas respons cepat perusahaan. Menurutnya, pendangkalan sungai dan penyumbatan sampah kerap menjadi momok bagi warga setiap kali musim hujan tiba, sehingga membutuhkan intervensi alat berat yang memadai.
“Mewakili masyarakat, kami mengucapkan terima kasih atas kepedulian dan gerak cepat PTPN IV. Kegiatan normalisasi menggunakan alat berat ini sangat berdampak nyata dalam memperkecil risiko penyumbatan yang kerap memicu banjir ke pemukiman,” tutur Sohadi.
Sohadi berharap sinergi antara perkebunan dan warga desa tidak hanya berhenti pada penanganan infrastruktur, tetapi juga menumbuhkan kesadaran kolektif.
“Kami berharap kolaborasi tanggap lingkungan seperti ini terus berjalan konsisten, sehingga daya dukung lingkungan sekitar kebun tetap terjaga dan masyarakat merasa lebih tenang menghadapi cuaca ekstrem,” tutupnya.(rls)













