Tim Relawan Medis FK Universitas YARSI Layani Korban Banjir Aceh Utara, Hadapi Akses Sulit dan Keterbatasan Obat

Advertisement

Jakarta — Fakultas Kedokteran (FK) Universitas YARSI menunjukkan komitmennya dalam aksi kemanusiaan dengan memberikan layanan kesehatan bagi masyarakat terdampak banjir bandang di Kabupaten Aceh Utara. Kegiatan pengabdian masyarakat ini berlangsung selama 11 hari, mulai 14 hingga 24 Desember 2024, sebagai bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat Tanggap Darurat Bencana Sumatera yang bekerja sama dengan Direktorat Pembelajaran dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kemendiktisaintek.

Salah satu anggota Tim Relawan Medis FK Universitas YARSI yang bertugas langsung di lapangan, Koas Rias Annur, S.Ked. menggambarkan kondisi Aceh Utara sebagai kondisi yang sangat berat. Banyak wilayah terdampak parah, terutama daerah yang berada di dekat aliran sungai dan tanggul.

“Di beberapa titik bahkan ada desa yang hilang, rumah warga rusak berat hingga hancur, jalan retak dan terputus. Kondisi masyarakat sangat memprihatinkan. Banyak warga harus mengungsi ke tempat yang lebih aman,” ujar Rias.

Tidak hanya tempat tinggal dan akses jalan, fasilitas kesehatan pun ikut terdampak. Sejumlah pustu dilaporkan hanyut atau rusak berat, sementara puskesmas induk terpaksa tidak beroperasi karena tertutup lumpur. Akibatnya, akses masyarakat terhadap layanan kesehatan terganggu dan angka kebutuhan pelayanan meningkat di posko-posko pengungsian.

Advertisement

“Pasien yang datang rata-rata mengalami ISPA, diare, penyakit kulit, kelelahan, dan kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, serta lansia jumlahnya cukup banyak,” jelasnya.

Relawan YARSI Berikan Pelayanan Kesehatan Hingga Home Visit

Dalam misi kemanusiaan ini, tim relawan FK Universitas YARSI memberikan berbagai layanan, mulai dari pelayanan kesehatan desa, pemeriksaan dan pengobatan bagi masyarakat terdampak, edukasi kesehatan pascabencana, hingga pemantauan khusus bagi kelompok rentan seperti ibu hamil, bayi, dan lansia. Tim juga melakukan home visit bagi pasien yang tidak mampu datang ke lokasi pelayanan karena kondisi fisik maupun akses.

Namun, perjuangan tim di lapangan tidak mudah. Keterbatasan sarana prasarana medis, jumlah obat yang terbatas, serta akses menuju lokasi terdampak menjadi tantangan besar.

“Banyak lokasi yang terisolir. Kami harus berjalan kaki, naik rakit, dan menempuh jarak sangat jauh ke posko dan madrasah tempat warga mengungsi. Tenaga kesehatan juga masih belum sebanding dengan jumlah masyarakat yang membutuhkan. Hanya tujuh orang tim medis harus melayani sekitar 200 pasien dengan fasilitas terbatas,” ungkap Rias.

Solidaritas Warga Aceh Bikin Terharu

Meski di tengah keterpurukan, Rias mengaku terharu melihat keteguhan dan solidaritas warga Aceh Utara.

“Walaupun kehilangan rumah dan harta benda, mereka tetap sabar, saling membantu, ramah, dan penuh rasa syukur. Bahkan ada warga yang masih menawarkan makanan mereka kepada kami di tengah kondisi keterbatasan,” tuturnya.

Harapan untuk Pemulihan Jangka Panjang

Rias berharap penanganan bencana di Aceh Utara dilakukan secara berkelanjutan, khususnya dalam aspek kesehatan. Ia menekankan pentingnya ketersediaan obat, tenaga medis, layanan bagi kelompok rentan, perbaikan sanitasi, penyediaan air bersih, hingga dukungan kesehatan mental bagi masyarakat terdampak.

“Kami berharap sistem kesiapsiagaan kesehatan bencana ke depan dapat berjalan lebih cepat dan efektif. Terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi membantu masyarakat Aceh Utara. Mari terus bergandeng tangan agar para penyintas tidak merasa sendirian,” pungkasnya.

Advertisement