PURWOREJO,pelita.co, – Ratusan jabatan kepala satuan pendidikan di Kabupaten Purworejo hingga Januari 2026 masih belum terisi. Kekosongan tersebut meliputi jenjang Taman Kanak-kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Purworejo, Yudhie Agung Prihatno, menyebutkan terdapat dua jabatan kepala TK, 141 kepala SD, dan 16 kepala SMP yang hingga kini masih kosong. Meski demikian, pihaknya memastikan pengisian jabatan tersebut akan rampung pada Februari 2026.
“Sekarang sedang tahap pemberkasan dan pengunggahan persyaratan teknis (pertek) ke Badan Kepegawaian Negara (BKN). Jika proses ini selesai, pelantikan direncanakan Februari,” ujar Yudhie saat ditemui di Ruang Arahiwang Kantor Setda Purworejo, Rabu (28/1/2026).
Menurut Yudhie, para calon kepala sekolah tersebut telah melalui proses seleksi yang cukup panjang dan telah diusulkan secara resmi oleh Disdikbud Purworejo. Namun demikian, masih terdapat sekitar 250 kepala sekolah yang masa jabatannya telah berakhir tetapi belum mengikuti pelatihan Bakal Calon Kepala Sekolah (BCKS).
“Ini menjadi perhatian dan prioritas kami ke depan,” tegasnya.
Disdikbud Purworejo juga telah menyiapkan 90 peserta untuk mengikuti pelatihan BCKS. Rinciannya, dari 16 calon kepala SMP, enam orang telah mengikuti pelatihan, sementara pada jenjang SD, dari 141 calon kepala sekolah, baru 17 orang yang sudah mengikuti BCKS.
Adapun calon kepala sekolah lainnya akan mengikuti pelatihan setelah pelantikan.
Terkait penempatan kepala sekolah, Yudhie mengakui masih terdapat kendala teknis, terutama untuk wilayah dengan sebaran sekolah yang tidak merata seperti Kaligesing dan Bruno.
“Kami berupaya menempatkan kepala sekolah sedekat mungkin dengan domisili tempat tinggalnya. Namun kondisi lapangan belum sepenuhnya ideal,” ungkapnya.
Selain itu, keterbatasan sumber daya manusia (SDM), khususnya di tingkat SD, turut memengaruhi belum optimalnya penempatan kepala sekolah secara definitif. Salah satu solusi yang ditempuh adalah melalui alih tempat tugas (ATT) sebagai langkah penyesuaian.
“Penempatan berbasis kedekatan lokasi tetap menjadi pertimbangan, meski harus disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan sekolah,” pungkas Yudhie.