MANGGARAI BARAT NTT, Pelita.co-Masyarakat adat gendang Mawe desa Golo Lajang Barat, kecamatan Pacar, kabupaten Manggarai Barat, provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) telah menggelar upacara adat “Penti Weki Peso Beo Dan Syukuran Panen” tahun 2025 yang puncaknya jatuh pada Sabtu 01 November 2025 lalu
Penyelenggaraan upacara adat ini berlangsung meriah dan sukses sejak pelaksanaan ritual Barong, Libur Kilo hingga tudak Penti dan perayaan Ekaristi Kudus di hari puncak
Seluruh warga yang berada di bawah gendang Mawe, baik yang tinggal di kampung Mawe desa Golo Lajang Barat maupun di Rembong desa Compang hadir dalam upacara adat tersebut sejak ritual Barong hingga hari puncak
Pantauan Pelita.co, warga kompak mengenakan busana adat Manggarai
Mereka mengenakan berkemeja putih dibalut sarung songket, selendang songket dan topi songket
Penti weki peso beo dan syukuran panen ini merupakan bentuk ungkapan syukur kepada Tuhan Pencipta serta berterimakasih kepada para leluhur atas Rahmat dan rejeki serta kebaikan yang diterima selama kurang lebih satu tahun ini
Selain ungkapan syukur kepada Tuhan Pencipta dan berterimakasih kepada leluhur, Penti Weki Peso Beo Dan Syukuran Panen ini juga merupakan momentum memanjatkan Do’a dan permohonan baik kepada Tuhan Pencipta maupun kepada leluhur agar selalu diberikan keberhasilan dalam perjuangan, kesuburan, kesehatan serta keselamatan
Upacara ini berlangsung selama 2 hari berturut turut sejak 31 Oktober hingga 01 November 2025
Di hari puncak, selain ritual “Tudak Penti” juga dilakukan Perayaan Ekaristi Kudus atau Misa Syukur (katolik)
Ritual Tudak Penti dilakukan lebih awal mulai Pkl.08.00 WITA yang dipimpin Kepala kampung atau Tu’a Beo atau yang juga biasa disebut Tu’a Gendang Mawe, Simon Denggon
Sedangkan persembahan dan permohonan kepada leluhur atau “tudak penti” disampaikan oleh salah satu tokoh adat gendang Mawe yang juga merupakan pensiunan PNS (pendidik), Ruben Abdulah
Persembahan dan permohonan yang juga dapat disebut sebagai Do’a adat ini disampaikan dalam bahasa Manggarai
Dua hewan kurban berupa seekor babi dan seekor ayam jantan dijadikan sebagai media persembahan kepada leluhur dalam tudak Penti tersebut
Penyampaian persembahan itu berisikan tentang ungkapan terimakasih atas semua kebaikan, kebijaksanaan, keberhasilan yang diyakini diberikan oleh leluhur
Selain ungkapan terimakasih, juga memohon agar Leluhur tetap dan selalu merestui dan mewarisi segala kebaikan di dalam kehidupan anak dan cucu mereka
Ritual Tudak Penti ini dihadiri oleh 5 Tu’a dan anggota panga yang terdiri dari panga Mawe 01, panga Mawe 02, panga Mawe 03, Panga Mulu, Panga Tanggar serta seluruh warga gendang Mawe lainnya
Setelah ritual adat tudak Penti tersebut langsung dilaksanakan perayaan Ekaristi Kudus yang dimulai Pkl.10.00 WITA, dipimpin pastor paroki Pacar, Romo Didi
Seluruh warga gendang Mawe serta sejumlah tamu undangan hadir mengikuti perayaan Ekaristi tersebut
Berbagai ritual adat lain dilakukan sehari sebelumnya tepatnya pada Jumat 31 Oktober 2025 yaitu ritual “Barong” sebagai bagian penting dan tak terpisahkan dari upacara adat Penti Weki Peso Beo
Salah seorang tokoh adat gendang Mawe yang berhasil diwawancara media ini, Damasus Dahar mengatakan bahwa Barong adalah ritual adat yang wajib dilakukan menjelang perayaan upacara penti weki peso beo
Barong ini tambahnya bertujuan untuk berterimakasih serta menghormati dan memohon restu kepada leluhur dan penjaga alam
Menurut kebiasaan warga gendang Mawe sendiri, Barong ini dilakukan di lima (5) tempat yaitu di Golo Mawe, Persawahan Sereng, Renda dan di Sumber air (wae teku) dan di Halaman Rumah adat sebagai compang Dari
Pagi Pkl. 07.00 WITA (31/10) warga berkumpul di rumah adat Mawe untuk kemudian berangkat menuju Golo Mawe sebagai tempat barong pertama
Tabuhan gong dan gendang mengiringi perjalanan (berjalan kaki) menuju tempat barong pertama yang berada di kaki Golo Mawe
Tempat Barong ini sebagai pusat dari seluruh kebun atau lahan garapan warga gendang Mawe atau Lingko
Di tempat Barong ini terdapat Mesbah atau yang disebut compang. Compang tersebut terbuat dari batu alam yang tersusun rapi membentuk lingkaran dan di tengahnya dipasangi salib, tempat ini disebut compang
Compang ini dijadikan sebagai tempat atau mesbah untuk meletakkan sesajen
Dari Golo Mawe, Barong dilanjutkan di Sereng yang merupakan persawahan berbentuk sarang laba laba. Barong di persawahan sereng ini dilakukan di tengah yang disebut lodok di mana di lodok ini terdapat tempat barong atau compang
Barong berikutnya di dilakukan di tempat yang tidak jauh dari rumah adat Mawe, yaitu di Renda. masyarakat setempat menyebut tempat Barong ini sebagai “Wina De Beo”
Selanjutnya warga tetap diiringi tabuhan gong dan gendang menuju sumber air yang dalam bahasa setempat disebut Wae Barong. Wae Barong ini merupakan sumber air yang digunakan masyarakat Mawe sejak masa nenek moyang hingga saat ini yang disebut wae teku
sama seperti beberapa tempat barong sebelumnya, di sumber air ini terdapat compang untuk meletakan sesajen. Barong di sumber air ini disebut Barong Wae Teku
Setelah Barong Wae Teku, warga beristirahat beberapa jam sambil menunggu waktu Baring terakhir
Sore harinya, tepatnya PKL.17.00 warga melanjutkan barong terakhir di compang utama yang berada di halaman depan rumah adat Mawe
Barong tersebut adalah penerapan dari konsep budaya “Gendang’n One, Lingko’n Pe’ang” di mana dalam konsep ini terdapat setidaknya 4 bagian penting yaitu Mbaru Bate ka’eng, Uma Bate duit, wae Bate Teku, natas Bate Labar
Salah seorang tokoh masyarakat Mawe, Damasus Dahar mengatakan bahwa Barong adalah ritual adat yang wajib dilakukan dalam setiap perayaan penti weki peso beo
Barong ini dilakukan sehari sebelum puncak upacara adat tahunan
Barong tersebut tambahnya adalah untuk menghormati dan memohon restu kepada Leluhur dan penjaga alam atas penyelenggaraan upacara penti weki peso Beo sekaligus ritual untuk memohon rejeki untuk selanjutnya
Ketua panitia penyelenggaraan Penti Weki Peso Beo Dan Syukuran Panen gendang Mawe tahun 2025, Fransiskus Saimon, S.Pd dalam sambutannya mengatakan bahwa seluruh rangkaian upacara tersebut terlaksana dengan baik dan sukses
Hal itu tambahnya karena partisipasi dari seluruh warga gendang Mawe sejak proses perencanaan hingga pelaksanaannya
Atas nama panitia dan segenap warga gendang Mawe Ia menyampaikan terimakasih kepada Romo Didi atas kesediaannya memimpin perayaan Ekaristi
Ucapan terimakasih juga Ia sampaikan kepada ketua Dewan Stasi Watu Wangka, Elias Lepen, Akolit Yohanes Masygur dalam membantu Pastor selama perayaan Ekaristi
Frans juga menyampaikan apresiasi serta terimakasih kepada Tu’a Gendang, para Tu’a Panga, tokoh adat, tokoh masyarakat, kaum muda, panitia serta segenap warga gendang Mawe
Dalam perayaan Ekaristi, Romo Didi juga memberkati berbagai jenis benih milik umat untuk di tanam pada musim tanam yang akan datang
Warga gendang Mawe terpantau begitu antusias dan bahagia selama pelaksanaan upacara adat Penti Weki Peso Beo dan syukuran panen tersebut