Beranda News

MARAH MEMBARA: Iran Kibarkan Bendera Merah ‘Pembalasan’

MARAH MEMBARA Iran Kibarkan Bendera Merah ‘Pembalasan’
Iran Kibarkan Bendera Merah di Kubah Masjid Jamkaran (ISTIMEWA)
Advertisement

Pelita.co – Senja merayap di langit kota suci Qom ketika bayangan sebuah simbol berwarna merah merambat naik, tak sekadar kain yang berkibar — tetapi sebuah jeritan bangsa yang hancur oleh kehilangan.

Di puncak Masjid Jamkaran, satu bendera merah berkibar — merah darah, merah duka, merah janji akan pembalasan. Ini bukan sekadar warna. Dalam tradisi Syiah, merah melambangkan darah para syuhada dan seruan tak terpadamkan untuk menuntut keadilan bagi mereka yang gugur. Bendera itu kini menjadi lambang emosi kolektif sebuah bangsa yang merasa kehilangan pemimpinnya, seorang tokoh yang tak hanya memimpin pemerintahan tetapi juga simbol keutuhan spiritual dan politik.

Meninggalkan gema yang mengguncang hingga ke luar perbatasan, pengibaran simbol itu datang menyusul konfirmasi tewasnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan udara yang melibatkan AS dan Israel — peristiwa yang mengoyak sendi stabilitas regional dan memantik gelombang kemarahan di seluruh Iran.

Bendera itu berkibar di atas masjid yang pernah menjadi tempat ziarah dan doa, namun kini menjadi panggung simbolis bagi rasa duka yang berubah menjadi amarah. Bagi jutaan warga yang menyaksikan dari jalanan Tehran hingga gubuk-gubuk di kota kecil Iran, warna itu bukan hanya lambang peringatan — tetapi sebuah sumpah, janji bahwa darah yang tumpah tidak akan dilupakan, dan jiwa yang runtuh akan dibalas.

Advertisement

Para ulama dan tokoh masyarakat berdiri berkerumun di bawahnya, dengan suara serak lantang menghitung doa dan janji pembalasan, menciptakan suasana yang berat dan penuh emosi. Di pasar-pasar, di sudut-sudut jalan hingga ruang keluarga di seluruh negeri, kabar itu disambut dengan isak tangis dan bisikan — seolah setiap individu menyematkan bagian dari hati mereka dalam kain merah yang berkibar itu.

Dalam konteks geopolitik yang sudah tegang, simbol ini menjadi sorotan internasional. Bendera merah di Jamkaran bukan hanya tanda duka pribadi Iran — ia adalah pesan, kuat dan emosional, kepada dunia: luka yang dalam ini akan membawa konsekuensi.

Bagi para analis, tindakan tersebut menggema jauh melampaui kubah masjid itu sendiri. Ini merupakan gambaran konflik batin sebuah bangsa yang bangkit dari duka menuju kemarahan, dan mungkin — menuju babak baru konfrontasi yang lebih luas. Bendera merah telah berbicara — bukan hanya sebagai warna, tetapi sebagai janji yang tak akan cepat pudar.

Advertisement