TANGERANG, Pelita.co – Ditengah meningkatnya kebutuhan masyarakat akan layanan kesehatan alternatif, sebuah praktik pengobatan tradisional berbasis spiritual hadir di wilayah Waringin Kurung, Kabupaten Serang, Banten. Praktik tersebut dijalankan oleh Kang Budi, pria kelahiran 1978, dengan mengusung metode pengobatan tradisional yang ia sebut sebagai “Ilmu Putih” dengan nama Manajemen Qolbu – Mediasi Energi Banyu Bening.
Berlokasi di Taman Krakatau i-8 Nomor 6, Waringin Kurung, Serang, praktik ini melayani berbagai keluhan kesehatan yang dialami masyarakat. Berdasarkan keterangan yang disampaikan, layanan pengobatan mencakup sejumlah keluhan seperti stroke, vertigo, gangguan paru-paru, diabetes, hingga penyakit lain yang bersifat non-medis.
Menariknya, metode yang diterapkan Kang Budi diklaim berbeda dari pengobatan alternatif pada umumnya. Ia menyebut, proses pengobatan dilakukan tanpa obat-obatan, tanpa jamu, tanpa herbal, tanpa ramuan, tanpa minyak, serta tanpa sentuhan langsung dengan kulit pasien.
“Tata cara pengobatannya sangat sederhana. Diawali dengan doa, kemudian menggunakan satu gelas air putih yang diusap, dan durasi pengobatan hanya sekitar lima menit,” jelas Kang Budi saat ditemui di lokasi Kediamannya, Senin 26-01-2026
Dari sisi pembiayaan, Kang Budi menegaskan bahwa praktik yang ia jalankan tidak berorientasi pada keuntungan. Ia menerapkan sistem biaya seikhlasnya bagi pasien yang mampu, sementara bagi masyarakat yang tidak mampu, tidak dipungut biaya sama sekali.
“ Silakan yang punya rezeki memberi seikhlasnya, dan bagi yang tidak mampu, saya gratiskan. Tujuan saya bukan mencari materi,” ujarnya.
Lebih jauh, Kang Budi menjelaskan bahwa visi dari praktik pengobatan tradisional yang ia jalankan adalah membantu sesama dengan pendekatan ketenangan batin dan keyakinan spiritual. Ia meyakini bahwa proses penyembuhan tidak terlepas dari kehendak Sang Pencipta.
“Visi dan misi saya sederhana, membantu orang dengan niat yang baik. Pada dasarnya penyakit itu sederhana, tidak ada penyakit yang tidak bisa disembuhkan, kecuali atas kehendak-Nya,” tutur Kang Budi.
Meski demikian, Kang Budi juga menekankan bahwa pengobatan yang ia lakukan bersifat ikhtiar dan tidak menafikan peran medis. Ia menyerahkan sepenuhnya hasil akhir kepada Tuhan, serta mengajak masyarakat untuk tetap menjaga kesehatan dan ketenangan hati dalam menjalani kehidupan.
Keberadaan praktik pengobatan alternatif ini pun menjadi salah satu pilihan bagi masyarakat sekitar yang mencari pendekatan pengobatan non-medis, dengan landasan spiritual dan kemanusiaan.(ahr)