JAKARTA, PELITA – Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH. Marsudi Syuhud, menyampaikan pandangannya dalam acara Dialog bersama Tokoh Lintas Agama dan Kepercayaan yang diselenggarakan oleh Komisi Hubungan Antar Agama dan Kemasyarakatan Keuskupan Agung Jakarta (HAAK-KAJ). Acara yang berlangsung di Aula Gerha Pemuda, Jakarta Pusat, pada Rabu (19/3/2025) ini mengangkat tema “Merawat Harapan untuk Merajut Kerukunan Antar Umat Beragama”.
Dalam sambutannya, Kiai Marsudi menegaskan bahwa dalam keyakinan beragama, tidak bisa mencampuradukkan ajaran satu dengan lainnya, sebagaimana ditegaskan dalam prinsip “lakum dinukum waliadin”. Namun, dalam konteks muamalah dan kehidupan sosial, umat beragama harus terbiasa hidup berdampingan. Ia menekankan pentingnya membiasakan generasi mendatang untuk coexist (Hidup berdampingan), saling menghormati, dan hidup bersama dalam harmoni.
Lebih lanjut, Kiai Marsudi menyinggung tentang sikap terhadap tantangan dalam membangun kebersamaan. Ia menolak penggunaan kata kerepotan sebagai alasan untuk menghindari kerja sama atau membangun inisiatif baru.
“Jadi kata kerepotan jangan sampai didownload oleh power of mind kita. Delete saja. Delete. Escape delete,” tegasnya. Ia mendorong semangat membangun bangsa dengan visi yang jelas (litaklif), menyatukan (liljam’i), serta bergotong royong (wa ta’awun).
Ia juga menekankan bahwa kebersamaan dalam kehidupan sosial tidak boleh dibiarkan tanpa kontrol.
“Jangan sampai yang sudah kita bisa hidup bersama kemudian tidak terkontrol. Ada sisipan-sisipan yang masuk, yang memecah belah. Dan itu harus semua waspada. Baik TNI, Polri, masyarakat biasa harus waspada ini,” ujarnya.
Kiai Marsudi menutup penyampaiannya dengan menekankan pentingnya latihan dalam membangun kebersamaan dan toleransi antarumat beragama. Ia menyebutkan bahwa Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) merupakan hasil dari upaya bersama yang telah dirintis sejak tahun 1989.
“Bisa kaya gini karna latihan. Saya membayangkan, kalau dulu kita tidak mulai, sekarang tidak ada. Maka ayo latih generasi-generasi kita, terus sampai desa. Adanya kata-kata FKUB, Pak Menteri, ini adanya ini, Forum Kerukunan Umat Beragama. Kita bareng-bareng dulu menciptakan ini, kata-kata ini dari tahun 89. Alhamdulillah, diambil, dikonek, dan difasilitasi oleh pemerintah, wabilkhusus Kementerian Agama. Terima kasih, Pak Menteri.” Pungkasnya.
Acara ini dihadiri hadir antara lain Menteri Agama RI, Prof Nazaruddin Umar, Hubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, dan tokoh agama Ignatius Kardinal Suharyo (Uskup Agung Jakarta), KH. Marsudi Suhud (Majelis Ulama Indonesia), Pdt. Jacklevyn F. Manuputty (Ketua Umum PGI), Candra Setiawan (Majelis Agama Konghucu Indonesia), Naen Suryono (Presidium Majelis Luhur Kepercayaan), Dede Rosyada (Ketua FKUB Jakarta), Philip Wijaya (Permabudi), dan I Wayan Kantun Mandara (PHDI). Percakapan antar tokoh agama ini dipandu oleh Budiman Tanuredjo (Wartawan Senior).