Beranda News

KH Achmad Chalwani: Jawa Tengah Selatan Ikhtiar Keadilan Pembangunan yang Lama Terabaikan

Pelantikan Himawan Jadi Momentum Konsolidasi Alumni Pesantren Jaga Pilar Bangsa di Era Disrupsi
Ket foto: Pengasuh Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan Purworejo, KH Achmad Chalwani Nawawi.
Advertisement

PURWOREJO, pelita.co — Pengasuh Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan Purworejo, KH Achmad Chalwani Nawawi, menyatakan dukungan penuh terhadap gagasan pengembangan Jawa Tengah Selatan (Jasela) sebagai langkah strategis untuk mengatasi ketimpangan pembangunan antarwilayah di Jawa Tengah.

Menurut KH Achmad Chalwani, konsep Jasela bukan sekadar wacana akademik atau gagasan politik, melainkan ikhtiar nyata untuk menghadirkan keadilan pembangunan bagi wilayah selatan yang selama ini tertinggal dibanding kawasan pantai utara (Pantura).

“Wilayah selatan sudah terlalu lama tertinggal. Maka ikhtiar seperti ini sangat relevan dan patut kita dukung bersama, sekaligus kita doakan,” ujar KH Achmad Chalwani saat memberikan tanggapan dalam acara Pelantikan Pengurus Pusat Himawan di Purworejo, Rabu (7/1/2025).

Dukungan tersebut disampaikan menanggapi pemaparan konsep Jasela yang disampaikan Abdul Kholik, S.H., M.Si., yang mengulas ketimpangan struktural pembangunan Jawa Tengah yang dinilai terlalu terpusat di wilayah utara, khususnya Semarang.

Advertisement

Salah satu indikator paling mencolok adalah angka kemiskinan. Kota Semarang tercatat memiliki tingkat kemiskinan sekitar 4 persen, sementara Kabupaten Kebumen masih berada di angka 16,76 persen. Selisih lebih dari 12 persen tersebut mencerminkan jurang pembangunan yang nyata antarwilayah.

Dalam paparannya, Abdul Kholik menjelaskan bahwa pola pembangunan Jawa Tengah selama ini menjadikan Semarang sebagai simpul utama infrastruktur, ekonomi, dan layanan pemerintahan. Jalur tol, pusat logistik, hingga orientasi kebijakan ekonomi terkonsentrasi di wilayah utara.

Akibatnya, kawasan Banyumas Raya, Kedu, hingga pesisir selatan seolah terpinggirkan dari peta pertumbuhan ekonomi regional.

“Tol dari Jakarta ke Brebes ditarik ke Semarang, lalu ke Solo dan Yogyakarta, kemudian kembali lagi ke Semarang. Wilayah selatan sama sekali tidak tersentuh, sehingga dampak ekonominya tidak pernah sampai,” ungkap Abdul Kholik.

Ia menilai, membangun poros ekonomi selatan dengan orientasi ke Semarang tidak realistis. Alternatif yang lebih rasional adalah membangun konektivitas selatan yang terhubung ke timur melalui Yogyakarta dan ke barat melalui Purworejo, Kebumen, hingga Cilacap.

Konsep Jasela sendiri menempatkan tiga sektor utama sebagai motor penggerak kawasan selatan, yakni pertanian, kelautan-maritim, dan pariwisata. Di sektor kelautan, wilayah pesisir selatan dari Pantai Jatimalang hingga Cilacap dinilai menyimpan potensi besar, termasuk ikan laut dalam dengan kualitas ekspor.

Namun realitas di lapangan menunjukkan masih banyak persoalan. Nelayan kecil kerap pulang melaut dengan hasil tangkapan yang nilainya bahkan tidak menutup biaya operasional. Infrastruktur pendukung seperti breakwater rusak, balai teknis minim, dan pengelolaan sektor maritim masih terpusat di wilayah lain.

“Laut selatan sangat luas, ikannya berkualitas ekspor. Tapi nelayan kita masih merugi karena negara belum benar-benar hadir,” tegas Abdul Kholik.

Bagi KH Achmad Chalwani, pembangunan tidak hanya soal anggaran dan infrastruktur, tetapi juga niat, ikhtiar, dan doa. Ia memandang gagasan Jasela sebagai usaha mulia yang harus diperjuangkan secara kolektif.

“Allah memerintahkan kita untuk berusaha dan berikhtiar. Tapi ikhtiar itu harus disertai doa. Keduanya tidak boleh dipisahkan,” tuturnya.

Ia berharap gagasan Jasela terus dikawal hingga benar-benar terwujud dan membawa perubahan nyata bagi masyarakat selatan Jawa Tengah.

“Mari kita doakan bersama, semoga Jawa Tengah Selatan ini benar-benar bangkit dan membawa kemaslahatan bagi umat,” pungkasnya.

Wilayah Jasela yang meliputi Wonosobo, Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap, Kebumen, Purworejo, hingga Magelang dinilai memiliki modal sosial, budaya, serta sumber daya alam yang kuat.

Dengan percepatan infrastruktur, peningkatan konektivitas transportasi, dan penguatan sektor unggulan, kawasan selatan diyakini mampu tumbuh sebagai pusat ekonomi baru yang tidak lagi bergantung pada wilayah utara Jawa Tengah.

Advertisement