IPSI : Pendekar Pencak Silat adalah Kesatria Pancasila

Jakarta – Wakil Ketua Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (PB IPSI), Muchamad Nabil Haroen memberikan sambutan pada pembukaan Kejuaraan Pencak Silat Internasional Open Championship 2022 di TMII Jakarta, Sabtu (13/8). Sambutan tersebut mewakili Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (PB IPSI) Prabowo Subianto

“Pendekar pencak silat adalah ksatria pemberani yang tak pernah memiliki gemuruh kebencian dalam jiwa dan raganya. Pencak silat mengenal kemanusiaan, kasih sayang dan kesucian setiap individu, agama, budaya, ras di dunia ini,” kata pria karib disapa Gus Nabil

Gus Nabil menambahkan, Pencak Silat adalah laku falsafah Pancasila. Sebab, Pencak Silat mengajarkan dan menempa seorang pendekar menjadi insan yang tegap dan berani membela kebenaran, kemanusiaan sebagaimana nilai-nilai luhur Pancasila yang telah disusun dengan darah dan air mata para founding fathers.

“Berkumpulnya ribuan pendekar pencak silat hari ini, di sini, adalah sedikit bukti jika Pencak Silat telah menyatukan kita semua yang berbeda-beda bangsa, yang berbeda-beda suku dan berbeda bahasa,” jelas Gus Nabil.

Gus Nabil meyakini, antar pendekar Pencak Silat mungkin tidak saling tahu bahasa daerah atau negara masing-masing. Namun inilah indahnya Pencak Silat, karena bisa berkomunikasi dengan jurus-jurus dan gerakan, sehingga menjadi satu frekuensi yang harmoni.

“Pencak Silat adalah sebuah seni bela diri yang memperkuat mental dan karakter; yang menjunjung tinggi keyakinan bahwa sejatinya kepintaran, kekuatan, kehebatan akan kalah dengan kesabaran dan keikhlasan,” urai dia.

Gus Nabil mengingatkan, Pencak Silat adalah seni bela diri asli Indonesia. Tidak hanya salah satu warisan budaya dunia yang diakui UNESCO, tetapi telah menjadi seni bela diri yang mendunia. Artinya, sudah selayaknya, bela diri ini dilestarikan dan dilebarkan sayapnya.

“Pencak Silat juga sudah diakui insan film dunia sebagai seni tingkat tinggi. Kita tahu, beberapa film Hollywood telah menggunakan silat sebagai nyawa utama dalam koreografinya,” bangga Gus Nabil.

Gus Nabil menyampaikan, Pencak Silat juga menjadi bagian penting soft power diplomacy. Dengan pencak silat, Indonesia dapat menjalin hubungan baik antar negara, antar komunitas, antar warga dunia. Pencak Silat diyakini dapat mempersatukan yang tercerai berai, mengkonsolidasikan yang tersebar, melembutkan yang keras, dan mengokohkan yang lemah.

“Ini menjadi kekuatan kita semua, menjadikan Pencak Silat sebagai media diplomasi kemanusiaan.

Jika masyarakat dunia saja semakin menerima dan menggemari Pencak Silat, kenapa kita yang memilikinya tidak merasa bangga untuk melestarikannya?,” tanya Gus Nabil.

Gus Nabil berharap, semoga bela diri Pencak Silat dapat menjadi dikuasai oleh perangkat keamanan negara seperti Polri dan TNI sebagai keahlian bela diri yang utama, setelahnya barulah mempelajari ilmu bela diri dari negeri lain. Sebab, dengan begitu kita semua semakin berdikari.

“Jika Korea Selatan bisa dikenal dunia karena K-Pop-nya kenapa kita tidak mau dikenal dunia karena seni bela dirinya? Rasanya tepat jika saya mengutip pesan Bung Karno, “Berdikari, percaya kepada kekuatan sendiri, tidak mengemis-ngemis,” jadi Mari kita harumkan nama pencak silat, nama Indonesia di kancah dunia,” pungkas dia.