
PURWOREJO,pelita.co,– Dugaan keracunan setelah mengonsumsi Makanan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi perhatian di Kabupaten Purworejo. Sebanyak 351 orang dari enam desa di Kecamatan Bener dilaporkan mengalami keluhan kesehatan setelah menerima dan menyantap makanan yang didistribusikan melalui program MBG.
Data tersebut disampaikan Satgas MBG melalui Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik dan Persandian (Dinkominfostasandi) Kabupaten Purworejo. Para penerima yang terdampak tersebar di Desa Guntur sebanyak 128 orang, Ngasinan 42 orang, Limbangan 6 orang, Nglaris 92 orang, Sendang Sari 26 orang dan Sidomukti 57 orang.
Distribusi makanan tersebut berasal dari Dapur Mandiri SPPG Kedungracak Kaliboto yang bermitra dengan Yayasan Alam Taro milik Dimas Wildan.
Salah satu wilayah yang melaporkan banyak warga mengalami keluhan adalah Dusun Kalipancer, Desa Guntur. Ketua RW V Dusun Kalipancer, Tri Indrayatno, mengatakan keluhan mulai dirasakan warga beberapa jam setelah makanan MBG dikonsumsi pada Kamis (17/9/2026).
Menurut Tri, makanan untuk siswa di MI Maarif dan RA Insan Mulia tiba sekitar pukul 09.00 WIB. Sementara distribusi untuk kelompok balita, ibu hamil dan ibu menyusui atau 3B melalui Posyandu diterima sekitar pukul 11.00 WIB.
Menu yang diterima warga saat itu, berdasarkan foto yang beredar, terdiri dari nasi, ayam bumbu, tahu kuah kuning dan sayur kol bumbu kuning.
Baca Juga: Muliakan Guru, Harman Subakat : Guru Berperan Menumbuhkan Manusia
“Seperti biasa, setelah menerima menu MBG kemudian dikonsumsi. Selang beberapa jam, sekitar pukul 20.00 WIB, warga ada yang merasa mual, muntah dan sakit perut. Agak malam ada yang diare. Tapi saat itu warga belum ngeh jika dampak makanan,” kata Tri melalui pesan WhatsApp, Selasa (22/9/2026).
Keluhan warga semakin terungkap keesokan harinya. Saat kegiatan Posyandu pada Jumat (18/9), para ibu saling menceritakan kondisi yang dialami anak-anak mereka.
Setelah mengetahui keluhan yang dialami cukup banyak warga, kader Posyandu kemudian menghubungi pihak SPPG Kaliboto 2 melalui pesan WhatsApp.
Bumil dan Busui Turut Terdampak
Tri menyebut kelompok penerima manfaat 3B juga mengalami keluhan. Salah seorang ibu menyusui yang mengonsumsi MBG diketahui memiliki anak yang kemudian mengalami muntah-muntah.
Selain itu, seorang ibu hamil dilaporkan mengalami sakit perut setelah menyantap makanan tersebut. Namun, menurut Tri, sejauh ini belum dilakukan pemeriksaan untuk mengetahui dampaknya terhadap kondisi kehamilan.
Penanganan awal dari pengelola dapur, lanjut Tri, dilakukan dengan mengirimkan oralit pada Jumat sore. Namun, oralit tersebut diletakkan di Posyandu dan warga diminta mengambil sendiri.
“Sore waktu Maghrib, pengelola dapur datang membawa oralit. Itu pun tidak diberikan langsung kepada warga, tetapi didrop di Posyandu dan warga disuruh mengambil. Bayangkan, orang sedang diare dan mules kok disuruh mengambil oralit,” ujarnya.
Kondisi tersebut kemudian mendorong warga melakukan koordinasi dengan para ketua RT hingga akhirnya digelar aksi damai.
Dalam aksi tersebut, warga menyampaikan sejumlah tuntutan. Di antaranya menolak kembali menerima MBG dari SPPG Alam Taro maupun SPPG lainnya karena trauma, meminta dapur tersebut ditutup, serta meminta pemeriksaan kesehatan terhadap seluruh penerima MBG.
Awalnya warga meminta SPPG ditutup permanen. Namun dalam kesepakatan, penutupan minimal dilakukan selama satu bulan.
Warga juga meminta skrining kesehatan dilakukan secara berkala hingga empat kali terhadap seluruh penerima MBG, baik mereka yang mengalami keluhan maupun yang tidak menunjukkan gejala.
Mereka juga meminta pemeriksaan dilakukan oleh tenaga kesehatan yang datang langsung ke lokasi warga, bukan masyarakat yang harus mendatangi fasilitas kesehatan secara mandiri.
“Intinya kami ingin semua penerima MBG diskrining, baik yang sakit maupun tidak. Skrining dilakukan berkala empat kali dan pihak SPPG datang bersama tenaga kesehatan ke lokasi,” jelas Tri.
Skrining Mulai Dilakukan
Skrining kesehatan terhadap warga mulai dilakukan pada Selasa (22/9/2026). Pemeriksaan dipusatkan di Gedung MI setempat.
Sementara itu, hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari pihak SPPG Kaliboto 2 maupun Yayasan Alam Taro terkait dugaan keracunan tersebut.
Wartawan juga telah menghubungi Kepala SPPG Kaliboto 2, Ahmad Fattul Arifin, melalui pesan WhatsApp untuk meminta konfirmasi. Namun hingga berita ini diterbitkan, pesan tersebut belum mendapatkan tanggapan.
Penyebab pasti keluhan kesehatan yang dialami ratusan penerima manfaat tersebut masih memerlukan pemeriksaan dan penelusuran lebih lanjut oleh pihak berwenang.













