Pelita.co – Pemimpin tertinggi Republik Islam Iran, Ayatollah Ali Khamenei, tewas Minggu dini hari (28 Februari 2026) dalam serangan udara gabungan yang dilancarkan oleh militer Amerika Serikat dan Israel, kata media pemerintah Iran dan sejumlah kantor berita internasional. Ini menandai salah satu perubahan paling dramatis dalam lanskap politik Timur Tengah dalam beberapa dekade terakhir.
Televisi negara Iran mengonfirmasi kematian Khamenei, mengumumkan periode berkabung nasional selama 40 hari dan menyatakan bahwa serangan itu menewaskan sejumlah pejabat tinggi lain serta anggota keluarga Khamenei.
Kronologi Peristiwa
Serangan terjadi pada kompleks kepemimpinan di Teheran, ibu kota Iran, sebagai bagian dari operasi militer besar yang disebut oleh sejumlah analis sebagai langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan sekutu Israel. Presiden AS mengkonfirmasi secara terbuka bahwa operasi ini menargetkan Khamenei dan menyatakan keberhasilannya.
Reaksi dan Dampak Langsung
Pemerintah Iran menyebut serangan itu sebagai “kejahatan besar” dan berjanji akan membalas secara tegas, sementara negara-negara sekutu Iran mengutuk serangan tersebut.
Warga Iran dilaporkan turun ke jalan, baik dalam aksi duka maupun protes, mencerminkan suasana duka mendalam sekaligus ketidakpastian politik.
Serangan ini menjadi pemicu eskalasi konflik di seluruh wilayah, dengan serangan balasan oleh Iran dilaporkan di beberapa negara tetangga serta peringatan dari militer AS dan sekutunya.
Krisis Kepemimpinan dan Langkah Selanjutnya
Menurut konstitusi Iran, setelah kematian seorang Supreme Leader, Dewan Kepemimpinan Sementara dibentuk yang mencakup Presiden, Kepala Kehakiman, dan tokoh senior lainnya untuk memegang wewenang sampai pengganti resmi dipilih oleh Majelis Ahli. Hal ini membuka babak baru dalam krisis politik Iran dan masa transisi yang penuh tantangan.
Profil Singkat Ayatollah Ali Khamenei
Ayatollah Ali Khamenei, yang berusia 86 tahun, memimpin Iran sejak 1989 dan menjadi figur sentral dalam politik dalam negeri serta hubungan luar negeri Republik Islam. Selama masa jabatannya lebih dari tiga dekade, ia dikenal karena kebijakan keras terhadap protes domestik, penentangan kuat terhadap kebijakan Barat, dan dukungan terhadap kelompok proksi di wilayah Timur Tengah.