
KULON PROGO, Pelita.co – Perbukitan Menoreh kembali menjadi panggung perpaduan olahraga, alam, dan budaya melalui penyelenggaraan BiosfeRun 2026. Ajang trail running yang digelar Badan Pelaksana Otorita Borobudur (BPOB) ini akan berlangsung pada 18 Oktober 2026 dengan pusat kegiatan di Lapangan Pagerharjo, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Berbeda dari lomba lari pada umumnya, BiosfeRun 2026 menawarkan pengalaman berlari sekaligus menikmati lanskap alam Menoreh. Para peserta akan melintasi kawasan yang menjadi bagian dari Cagar Biosfer UNESCO, sembari mengenal lebih dekat kehidupan dan budaya masyarakat setempat.
Tahun ini, BiosfeRun menargetkan sekitar 1.000 peserta yang terbagi dalam tiga kategori jarak, yakni 7K, 15K, dan 30K. Kategori 30K menjadi tantangan utama dengan gelar “The Highlander” bagi pemenangnya, yang merepresentasikan ketangguhan, keberanian, serta kedekatan dengan alam.
Mengusung filosofi Jawa “Memayu Hayuning Bawana”, kegiatan tersebut tidak sekadar mengajak peserta menaklukkan medan perbukitan. Filosofi itu menjadi pesan agar manusia turut menjaga keseimbangan antara diri, alam, dan kehidupan sosial di sekitarnya.
Plt. Direktur Utama BPOB, Yusuf Hartanto, mengatakan BiosfeRun dirancang sebagai bagian dari pengembangan pariwisata yang mampu memberikan pengalaman bagi wisatawan sekaligus manfaat nyata bagi masyarakat lokal.
“BiosfeRun 2026 kami hadirkan bukan hanya sebagai ajang olahraga, tetapi sebagai bagian dari upaya membangun pariwisata yang memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat,” ujar Yusuf.
Baca Juga: Jelang Porprov Jateng XVII, Wabup Dion Kobarkan Semangat Juang Atlet Purworejo
Menurutnya, perpaduan olahraga, alam, dan budaya diharapkan mampu menghadirkan event berkualitas yang tetap mengedepankan prinsip keberlanjutan. Di sisi lain, kegiatan tersebut juga diharapkan membuka peluang ekonomi bagi masyarakat di sekitar kawasan.
Keterlibatan masyarakat menjadi salah satu unsur penting dalam penyelenggaraan BiosfeRun 2026. Masyarakat desa di kawasan Menoreh tidak hanya menjadi bagian dari penyelenggaraan, tetapi juga didorong untuk memperkenalkan berbagai potensi lokal, mulai dari produk masyarakat hingga aktivitas dan budaya setempat.
Kepala Divisi Pemasaran Nusantara Pariwisata BPOB, Ricky Harris Fadhila, mengatakan BiosfeRun diharapkan dapat tumbuh bersama masyarakat dan memberikan dampak langsung bagi desa-desa di sekitar kawasan.
“Kami ingin event ini ikut mengangkat potensi alam, budaya, serta produk dan aktivitas masyarakat lokal sehingga manfaat penyelenggaraannya dapat dirasakan secara langsung oleh desa-desa di sekitar kawasan Menoreh,” katanya.
Melalui BiosfeRun 2026, BPOB berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai agenda olahraga tahunan. Lebih jauh, event ini diharapkan menjadi sarana memperkuat ekonomi masyarakat, menjaga kelestarian lingkungan dan budaya, sekaligus memperkenalkan Borobudur Highland sebagai destinasi pariwisata hijau dan berkelanjutan.
Dengan karakter lintasan yang menantang dan kekayaan alam serta budaya yang menyertainya, BiosfeRun 2026 diproyeksikan menjadi pengalaman berbeda bagi para pelari sekaligus momentum untuk semakin mengenalkan pesona Perbukitan Menoreh kepada wisatawan nasional maupun mancanegara.
Baca Juga: MORA Group Buka MORA Cup 2026, Satukan Karyawan dalam Semangat Sportivitas dan Kebersamaan













