Jajaran Polsek Cisoka bersama Bhayangkari Berikan Bantuan Sembako, Kepada Pondok Pesantren Al-Hidayah.(Pelita.co/Dok Ist)

TANGERANG. Pelita.co – Jajaran Anggota bersama Bhayangkari Polsek Cisoka, meninjau korban kebakaran Pondok Pesantren AL-Hidayah, Kampung Cikuya Pasir Rt 12 RW 04 Desa Cikuya, Pimpinan Ustad Romli. Sabtu, (8/5/2021).

“Ini merupakan bentuk kepedulian kepolisian khususnya Polsek Cisoka, setelah kemaren kita evakuasi, kini kita berikan beberapa berupa sembako dan pakaian, semoga kiranya bisa membantu dan mengurangi beban para santri yang menjadi korban kebakaran”, ungkap , AKP.Nurrokhman Triamtono SH Kepada Awak .

Sebagai wujud kepedulian kami, kami juga mengucapkan terimakasih kepada warga yang sudah membantu baik tenaga ataupun materi, semoga amal baik nya di balas oleh Allah SWT.

“Mudah mudahan dengan sumbangan bantuan dana ini, bisa membatu berdirinya kembali dan bisa dipergunakan untuk Proses belajar mengajar, serta menimba ilmu agama,” ungkapnya.

Baca juga :  Infrastruktur Desa Jadi Usulan Prioritas di Musrenbang Desa Selapanjang

Tidak hanya itu, Kapolsek juga memberikan semangat dalam belajar dan menggapai cita-cita kepada para santri yang berada di Pondok Pesantren tersebut.

Jajaran Anggota Polsek Cisoka bersama Bhayangkari Polsek Cisoka, meninjau korban kebakaran Pondok Pesantren AL-Hidayah, Kampung Cikuya Pasir Rt 12 RW 04 Desa Cikuya, (Pelita.co/Dok Ist)

“Kami juga membangkitkan kesadaran para santri dalam membangun semangat kebersamaan untuk lebih waspada dalam menghadapi penularan covid-19, dan juga meminimalisir dengan cara mengutamakan ,” ujarnya.

Pimpinan pondok pesantren Al – Hidayah Ustad Romli mengucapkan terimakasih kepada seluruh jajaran Polsek Cisoka dan Bhayangkari Polsek Cisoka yang sudah peduli membantu kami, bantuan ini sangat berguna dan bermanfaat.

“Terimakasih atas bantuannya, semoga amal baik bapak dan ibu bisa dibalas oleh Allah SWT,” tegasnya.

Untuk diketahui, pondok pesantren Al-Hidayah Cikuya, Kecamatan Solear mengalami kebakaran dikarenakan konsleting listrik, sehingga mengakibatkan kebakaran 24 kamar santri laki-laki, dan sampai dengan saat ini para santri masih mengungsi di aula majlis, sampai dengan waktu yang belum bisa ditentukan, karena untuk membangun pondok pesantren membutuhkan biaya dan waktu yang cukup lama.